Rss Feed

ShoutMix chat widget

Mau seperti ini?
Click aja disini---> Kumpulan Blog Tutorials

tuli


malu. aku sangat-sangat malu. karena mata kita bertemu pada satu sudut. bukankah tangan kita tidak saling menyatu karena sibuk menutup mata? namun kita sama tau, kita sama buta. aku mencintaimu, karena alasan, tak ada yang lebih patut menerima rindu yang berkilometer panjangnya, atau menerima tunggu sebagai tamu setiap detiknya, atau menerima rasa yang begini sederhana. kuharap kamu mendengar. namun, kita sama tahu, kita tak hanya sama buta, tapi sama tuli.

^*syafiyah*^
[21 feb 10]

kita dan pasir


ruah. aku memuntahkan semua yang bernama malam pada jelaga biru. kita sama-sama tau apa itu sendu. yang terpantik emosi, yang memilin sunyi. apa kaki kita tenggelam dalam pasir yang mengaku waktu? menenggelamkan, mencekik, dan membunuh tanpa kita tahu. gerutumu padanya adalah angin lalu. kita tak bisa bermandian dengan malam. bergliriya. sembunyi-sembunyi. padahal kita tahu rumah kita tak beratap tak berlantai. lalu mengapa kita masih melaju dipadang pasir yang menjadikan kita santapannya?

^*syafiyah*^
[Jumat, 19 feb '10]
malam dan memburu

kamu!

bila kaki yang menapak bumi bisa bicara, dia takkan pernah tahu apa yang ada di kepala.

~fia~

secangkir susu cinta..


susu merah jambu.
kesukaanku.
manis.
segar.
menggiurkan.

sepertimu.

^*syafiyah*^
[12 februari 10]

Gugat!



aku menggugat malam. karena wajahnya menampakan kesepian! hujan pun rela menciptakan rinai jadi nada. untuk membungkam sendirinya. walau tak lama. tak pernah lama.

Pada

Tertoreh sepi, sunyi.
Tanpa kawan ataupun lawan
Aku demam karena permainan
Sekali lagi, kusebut kehidupan
Dan aku benci mengatakan
Di dalam hidup semu
Aku merindu
Merindu
mu

PADA..

Melumat Sepi


Apakah jemariku memang menyulamkan sepi? Yang bermain-main dengan takdir? Melanglang buana hingga akar inti bumi? Membiarkan mati dalam ruang hampa, sia-sia? Lalu apa kata yang Kuasa bila hambanya bermain-main dengan murka-Nya. Namun, sekali ini aku berpikir, apa benar jemariku menyulam sepi? Sejujurnya sepi itu berbahasa, lewat hembusan angin dan rintikan hujan, lewat getaran dan sensasi rasa. Lewat lumatan bibir mencairkan coklat, manis, dan aku muda, belia dan juga remaja. Suara mereka terasa, dari ubun kepala hingga kaki mati rasa. Dan sepi-pun kunikmati dengan percuma. Memelukya erat tiap pagi, siang, dan malam. Seperti makan nasi, dan makan hati, kebutuhan, begitu juga menelan sepi, bulat-bulat. Menalaah hari dan tapak kaki.

^*syafiyah*^
[21 Des 10]
malam dan melumat sepi,
berdua

Beban Satu Ayat

Rajam kawan, suara riuh, meredam sendu, dan.. mataku memikul malu.
Beban teramat sangat bujang, membekukan jantung dan darahku.
Menutup hitam pekat bola mata. Dan tangan ini berkeringat, lalu mereka bergumpalan, membentuk bulatan, menunjukkan haluan. Penuh keringat. Penuh pengharapan. Tak terpisahkan. Bagai bibir yang mengapit lidah yang mengemut, pahit getir, asam manis, menjilat jejak-jejak. Mematung. Termenung. Lama. Lara. Aku lupa. Hingar bingar nestapa. terbiasa. Aah, durhaka aku pada yang Kuasa. Bila terus mematung, menutup mata. Ya, sampaikanlah walau hanya satu ayat.

^*syafiyah*^
[17 Januari 2010]
malam dan sensitif
My Vision Board

Bismillah,

Alhamdulillah, my vision board sudah hampir selesai walau belum 100% tapi sudah cukup mewakili apa target-target saya ^_^ Semoga Allah swt meridhai dan mensukseskan target dan tujuan hidup saya. Amien ya Rabbal alamin.

^*syafiyah*^
[16 Januari 2010]

'Membenci' Islam? Kita-kah?

Bismillahirahmanirahim,
semoga tulisan ini diberkahi oleh yang menciptakan jin dan manusia untuk beribadah pada-Nya

berdebat dengan cara yang baik yuk!
Hari ini saya membaca blog yang menghina islam, sedih rasanya. Miris. Panas dan gerah! Terlihat sekali kebenciannya yang teramat dalam oleh sang penulis. Dan, entah kenapa jadi ingin menarik kesimpulan atau apalah namanya, tentang mengapa bisa terbentuk sosok karakter seorang yang begitu membenci islam.. mungkin, inilah kemungkinan-kemungkinan mengapa mereka begitu membenci Islam, dengan ilmu saya yang teramat sangat sedikit ini;

1. Mereka mempunyai ketidaksukaan, lalu mempelajari al-Qur'an secara setengah-setengah kepada orang yang salah, mungkin kepada orang-orang yang juga membencinya. Dan diambilah yang menurutnya buruk.