Rss Feed

ShoutMix chat widget

Mau seperti ini?
Click aja disini---> Kumpulan Blog Tutorials

EGOIS Yang Tercela


===============

Ananiyah (egois) adalah sifat yang mementingkan diri sendiri dan keinginan untuk memiliki dan menguasai. Dan menjadikan tujuan setiap perbuatannya untuk kepentingan dia sendiri

Perkataan Allah Ta'ala 
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (QS Al Hasyr :9 )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : 
Siapakah di antara umatku yang mau lima perkara yag dia mengamalkannya atau mengajarkan kepada orang yang akan mengamalkannya?
Aku berkata : Saya wahai Rasulullah. Kemudian beliau bersabda : 
1. Jauhilah yang haram niscaya engkau jadi hamba yang banyak beribadah.
2. Cukupkan dengan apa yang Allah berikan padamu, kamu jadi orang yang paling kaya
3. Berbuat baiklah pada tetanggamu, kamu termasuk orang beriman 
4. Cintailah manusia apa yang kamu sukai untuk dirimu, kamu adalah muslim
5. Jangan banyak tertawa, sesungguhnya banyak tertawa mematikan hati 
(Riwayat Ahmad 2/310 No. 8081, Tirmidzi/2305 Dihasankan Al-Albani) Sumber : saaid.net



Terharu


"Terharu. Kata itulah yang selalu mengiringi ingatan saya ketika kembali pada tanggal 29 September 2013, hari dimana (bahasa saya saja) ada sebuah silaturahim akbar, inti acara itu sesungguhnya hanyalah tentang silaturahim saya, ayah dan dirinya, namun disertai juga dengan silaturahim keluarga besar saya dan keluarga besar orang yang saat itu masih begitu asing, melainkan juga teman-teman yang begitu saya sayangi, serta tetangga yang mungkin sebagian besar tidak tahu bahwa di daerah itu hiduplah seorang gadis bernama "Vera". Saya benar terharu mendapati adik-adik, teman mengaji, kakak kelas, dan sahabat-sahabat dari Semarang yang bela-belain naik kereta 2x dalam kurun waktu 24 jam menempuh waktu sekitar 16 jam beserta macet dan kesasar. Beberapa diantaranya malah mencari tempat yang bisa disinggahi untuk menginap. Dan beberapa diantaranya bahkan datang ketika maghrib, menyempatkan diri setelah suatu acara, ah terharu. Serta teman KKN dan kekasihnya yang tersasar sana-sini hingga akhirnya sampai. Ada juga teman SMP yang bela-belain datang sehari sebelum acara, langsung dari Bogor dan izin dari agenda ini-itu untuk hari H hanya buat bertemu muka dan berbagi cerita. Lebih-lebih teman-teman komunitas yang sudah sekian lama tidak berjumpa akhirnya dipertemukan lagi di hari itu, mereka yang dulu ditemui pas ABG kini sudah beranjak dewasa, ah waktu, bahkan ada yang sudah membawa satu prajurit ganteng loh ^^. Nah, yang tidak boleh tidak disebut adalah keluarga Rohis SMA yaitu kakak-kakak, adik-adik, dan khususnya angkatan 2010 yang sudah meluangkan waktu dari berbagai agenda padat mereka, mereka yang memorinya selalu ngangenin. (Ah ya untuk adik-adikku saya tidak terbayang bagaimana kalian membungkus kado dan membawanya ke rumah, berat banget loh, dan ketika dirangkai berasa kalau kita dikerjain  panduangannya bikin cenat-cenut kepala, si dia sampai begadang loh hehe). Ada juga senior yang baru punya baby yang datang di hari sabtunya sebab salah hari, terakhir ketemu beliau adalah ramadhan 2010 saat masih nyinggel tak tahunya bertemu sudah bawa si tembem. Dan, umahat yang aku sayangi (senior juga) yang tanpa diduga datang bersama mertuanya. Senangnya. Apalagi bertemu sama sohib main SMA, yang sudah lebih dari 3 tahun tidak bertemu, jarang sekali terkoneksi, disana-dipelaminan- kita berjam-jam ngobrol tanpa henti nyuekin si dia, lucu kalau diingat. Nah, ada juga teman main yang nyebelin sangat, mungkin harus di capslock nyebelinnya, yaitu... geng SMP, yang ketika dikabari aku mau nikah mereka tuuuuh... flaaaat banget seakan-akan tidak ada tanda-tanda kehidupan, kupikir mereka tidak akan datang sebab sibuk dengan agenda mereka, gak tahunya tiba-tiba datang serombongan dan ketawa haha-hihi-haha-hihi, ternyata mereka melakukan koordinasi sendiri. Yah well mereka memang begitu ^^ sekalipun udah lama nggak ngobrol dan temu muka tetap ngangenin deh. Pun juga dengan beberapa teman SD yang sayangnya tidak sebanyak yang diharapkan, sebab pas liburan tidak ikut reuni harapannya bisa reuni disini, lumayanlah ada beberapa yang hadir. ^^ Sekalipun ada raga-raga yang tidak hadir, namun saya menemukan kumpulan hadiah yang dititipkan, ah... terharu sekali mendapatkannya, insyaAllah akan sangat bermanfaat.

Yeah, tidak ada yang bisa dikatakan selain alhamdulillah wa syukurillah, 'terimakasih telah ada dalam perjalanan hidupku' kata inipun mungkin tidak bisa mewakili sepenuhnya, ah ya sudahlah, maklum lagi terharu :')"

-lo(ve)- 

[Susahnya... TUGAS ISTRI itu..!]


-catatan singkat saja-

Tugas istri, hmm... dulu sih ketika masih sibuk-sibuknya masuk keluar kelas di kampus atau sekolah, kalau ketemu yang namanya tugas semangat sekali mengerjakannya (kecuali yang eksak ya hehe), apalagi kalau sekelompok sama yang kooperatif dan bisa dibagi jobdesk dengan jelas sehingga meminimalisir pekerjaan yang tidak maksimal. Nah, sekarang... deskripsi tugasnya sudah berbeda sebab peran yang diambilpun berbeda, bukan lagi jomblo/singel, mahasiswi kura-kura (kuliah rapat 2x), tukang update, anak sulung yang hobi sms gak jelas, atau sekedar wanita yang hobi kelayapan dari satu masjid ke mesjid lain. Katanya sih, peran yang saya ambil ini besaaar sekali (oh yea? perasaan aja mungkin), yaitu menjadi Nyonya X alias istri orang. Sebab perannya besar, otomatis tugas-tugasnyapun besar juga, semisal... yang menempati strata kedua, dibawah taat kepada Allah dan Rasulnya, adalah taat kepada suami dalam ketaatan kepadaNya, ini tugas yang tidak bisa ditawar-tawar, wajib bin sangat! Bisa-bisa shalatnya istri tidak diterma karena tidak taat suami, atau sepanjang malam atau sepanjang ia diluar rumah ia dijauhi malaikat. Hiii...

Selain itu, tugas yang lainnya tidak kalah besar, saya tidak akan berkaca kepada rumput tetangga yang lain, berkaca pada tugas saya sendiri sajah ya (ceritanya begitu). Yang pertama yang harus saya lakukan adalah, makan-makanan bergizi, tidur yang cukup, hindari stress, dan memupuk tabungan. Tugas kedua saya adalah menyelesaikan skripsi yang diakomodasi penuh oleh investor bernama suami, ditemani oleh supir ojek yang -kadang- siap sedia. Tugas ketiga terkait sandang, pangan, papan adalah merasa nyaman dengan rumah yang disediakan dan sudah bersih, menutup aurat dengan pakaian-pakaian yang telah disiapkan, dan mencicipi masakan atau menyediakan waktu untuk diajak mencicipi masakan diluar sana (Ya, ini menyibukkan sekali, hehe). Tugas keempat, tidak meminta banyak barang-barang tersier, tidak boleh tivi (agree!), kulkas belum boleh, perhiasan? untung saja saya juga tidak nge-blink, dan tas yang saya kumpulkan pas single masih cukup sekali. Tugas kelima, siap sedia mendengarkan taujih, ilmu, atau sekedar duduk mendengarkan tilawah. Tugas keenam, kalau saya mau katanya boleh mijitin atau bikinin teh hangat, sekali lagi... kalau saya mau.

Yup, tugas istri ternyata memang sangat berat! Jadi, ada yang sudah mau jadi istri orang...? Ini mungkin bisa menjadi gambaran betapa mengerikannya menikah itu, hwehehehe~

-- Peace, Love & Syari'

Vera, last 2013

ENAM TANDA KEBODOHAN



Diriwayatkan dari al-Hasan bin 'Alawiyah, beliau berkata: "Muhammad bin Manshur berkata: "Ada enam hal yang menandakan KEBODOHAN seseorang:

1. Marah tanpa alasan.
2. Berbicara dalam hal yang tidak ada manfaatnya.
3. Nasihat bukan pada tempatnya.
4. Menyebarkan rahasia.
5. Percaya kepada setiap orang.
6. Tidak bisa membedakan antara teman dan lawan."

Diriwayatkan dari Wadiah al-Anshari, beliau berkata: "Aku mendengar Umar bin al-Khaththab sedang menasihati seseorang, beliau berkata:

"Janganlah engkau mengucapkan sesuatu kecuali hal yang penting bagimu, kenalilah musuhmu dan berhati-hatilah terhadap teman kecuali orang yang sangat dipercaya. Seseorang tidak dikatakan terpercaya kecuali jika ia takut kepada Allah .

Janganlah kalian berjalan dengan orang yang suka melakukan maksiat, karena (jika demikian) dia akan mengajarkan kejelekan kepadamu, dan janganlah kalian menampakkan rahasia dan urusanmu kecuali kepada orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ."

Al-Auza'i berkata: "Aku mendengar Bilal bin Sa'ad berkata:

"Temanmu yang selalu mengingatkanmu tentang urusan akhirat ketika berjumpa denganmu lebih baik daripada teman yang setiap kali berjumpa denganmu dia memberimu uang sebanyak seribu dinar."

(Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzi)

[Menjaga Rasa Syukur]



Kita pasti sepakat, (eh, mungkin saya aja yang sepakat) bahwa mengeluh di facebook itu seperti buang sampah tidak pada tempatnya. Walau ada beberapa keluhan yang jika bijak diolah dapat menciptakan rasa manis-asin-asem yang pas sehingga dapat membawa faidah atau hikmah tersendiri. Sayangnya rasa-rasanya banyak pula penggemar kelah-keluh-resah tanpa juntrungan yang jelas sekedar aduh-aduh, hiks hiks lantas pergi, bahasanya kasarnya sekedar numpang "kentut" di home lalu kabur setelah plong, terlebih tanpa rasa bersalah telah memberi bau menyengat.

Syukurnya polusi itu mungkin sudah banyak kita sadari bahayanya. Namun, adakah yang menyadari bahaya polusi yang satu ini di dunia per-facebook-an atau di dunia maya ini?

Sebut saya, polusi ini namanya polusi "Bahaya Bahagia". Yup, di dunia ini mungkin perasaan Bahagia-lah yang paling banyak dicari-cari, ada yang begitu yakin dapat menemukan bahagia hakiki dalam lautan harta, jutaan wanita, mendunianya nama, atau tingginya martabat keluarga. Ada yang lebih tenang, dengan menyakini bahagia dapat ditemukan dalam hati yang merasa cukup, dalam kekhusyukan beragama, dalam keceriaan anak-anak, atau dalam seutas senyum sederhana di malam ini.

Bersyukurlah orang-orang yang mendapatkan karunia kebahagian itu, baik dengan sebab-sebab sederhana.

Tapi, sayangnya... kebahagiaan itu dapat menjadi bahaya mematikan, polusi baru, dalam dunia perfacebookan, bila ia diumbar dengan berlebihan sebab kurangnya kita bersabar menahan diri.

Bahaya polusi ini tidak lain adalah mencabut rasa syukur dihati orang-orang, dan menambah kedengkian orang-orang yang dengki, dan sungguh orang dengki itu berbahaya bagi kita (ingatlah surat al-falaq)

Hal yang harus sama kita sepakati, bahwa di dunia maya dan dunia nyata ini ada saja orang yang hati-nya memiliki penyakit super kronis, ada orang yang memiliki angan-angan super tinggi, ada jiwa-jiwa yang begitu lemah, ada orang-orang yang lupa dengan takdir dan kehendak Allah, yang mungkin... sebab hal ini, membuat kabar kebahagiaan-kebahagiaan kita (yang kita bagi secara berlebihan dan tidak pada tempatnya) menjadi bom bunuh diri, pil pahit, tikaman dalam bagi mereka, hingga tercabutlah rasa syukur dari diri mereka.

Yang sedang lulusan S1/S2, jagalah ia yang lulus SMA-pun susah payah
Yang dalam keadaan berkecukupan, jagalah perasaan yang kekurangan harta
Yang sudah menikah, jagalah perasaan yang belum juga menikah
Yang sudah bekerja, jagalah perasaan yang belum bekerja
Yang sedang hamil, jagalah perasaan yang belum dikaruniai
Yang sedang sehat dan kuat, jagalah perasaan ia yang sakit-sakitan
Yang bertubuh cantik menawan, jagalah perasaan yang kekurangan dalam fisiknya

Jagalah ia, dengan menahan diri dari mengumbar kebahagiaan dengan berlebih. Jagalah ia, dengan cukup membaca hamdalah dan berakhlak mulia. Jagalah ia, dengan kata-kata yang penuh faidah bukan sekedar sensasi saja.

Maka, sesungguhnya ia akan indah, menenangkan, dan mendamaikan jiwa.

Dan, tentunya... jika kita memahami, bahwa menahan diri dan menjaga orang lain semata-mata bukanlah karena ada yang dengki atau iri atau ada yang rapuh lagi lemah, melainkan semata-mata demi menjaga kesyukuran yang sempurna baik dalam kenikmatan atau tidak dalam kenikmatan itu sendiri. Kita, sama menjaga diri menjadi pribadi yang penuh syukur dalam kesabaran.

Lo(ve), 2013