Rss Feed

ShoutMix chat widget

Mau seperti ini?
Click aja disini---> Kumpulan Blog Tutorials

Ketika Cadar Jadi Pilihan

~*Ketika Cadar Jadi Pilihan *~
.:Sudut Bumi 
اللَّهِ 19 Oktober 2011:.
الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ اللَّهِ بِسْمِ الرَّجِيْمِ الشََّيْطَانِ مِنَ بِاللِه أَعُوْذُ

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Alhamdulillah.. Alhamdulillahi robbil alamin asholatuwasalamu ashrofil ambiyai’ walmurshalin ama ba’du
"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwannnya. " (Asy Syams: 7-8 )

Duhai sahabatfillah terkasih, sharing kali ini masih berkaitan dengan cadar dari sumber yang sama seperti sebelumnya, kali ini yaitu dari Ustadz Kholid Syamhudi, Lc, Insya Allah disini ana hanya akan menyantumkan 10 Point dari 26 point yang mewajibkan cadar, karena keterbatasan ini. Semoga dengan share ini kita dapat saling memahami, Lillahita’ala. Dan membawa kebaikan dunia akhirat. Selamat Membaca ya SahabatFillah..
***
Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik secara langsung maupun lewat surat, tentang masalah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita. Karena banyak kaum muslimin belum memahami masalah ini, dan banyak wanita muslimah yang mendapatkan problem karenanya, maka kami akan menjawab masalah ini dengan sedikit panjang. Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan. Maka di sini -insya Allah- akan kami sampaikan hujjah masing-masing pendapat itu, sehingga masing-masing pihak dapat mengetahui hujjah (argumen) pihak yang lain, agar saling memahami pendapat yang lain.

Pertama, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An Nur: 31)

ð Allah ta’ala memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Kedua, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
 “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)

ð Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi, Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/486). Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.

Ketiga, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
 “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)

ð Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah? (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7-8, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Keempat, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
 “Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)

ð Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 9, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Kelima, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
 “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60)

ð Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 10, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

ð Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (QS An Nur:60): “(Yaitu) jilbab”. (Kedua riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/523)

ð Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini, yaitu dia menutupi wajah dengannya. Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman,

 “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

ð Yang dimaksud adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:

 “Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60)

ð Dia mengatakan, “Ini menetapkan jilbab.” (Riwayat Al-Baihaqi. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/524)

Keenam, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
 “Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

ð Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 11, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, penerbit: Darul Qasim).

Ketujuh, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.” (Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan bahwa perawi riwayat ini dari Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalhah yang tidak mendengar dari ibnu Abbas. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/513)

ð Qatadah berkata tentang firman Allah ini (QS. Al Ahzab: 59), “Allah memerintahkan para wanita, jika mereka keluar (rumah) agar menutupi alis mereka, sehingga mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.” (Riwayat Ibnu Jarir, dihasankan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)

Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Wanita itu mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, tetapi tidak menutupinya.” (Riwayat Abu Dawud, Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan: Hasan Shahih. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)

ð Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya mempraktekkan cara mengulurkan jilbab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas (kepala) sehingga dekat ke alisnya, atau di atas alis. (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/513)

As-Suyuthi berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 51, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil:


1.       Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah: Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.
2.       Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliah adalah wajah mereka, lalu Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. Kata idna’ (pada ayat tersebut يُدْنِينَ -ed) yang ditambahkan huruf (عَلَي) mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.
3.       Menutupi wajah, baju, dan perhiasan dengan jilbab itulah yang dipahami oleh wanita-wanita sahabat.
4.       Dalam firman Allah: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu”, merupakan dalil kewajiban hijab dan menutup wajah bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara kaum muslimin. Sedangkan dalam ayat ini istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bersama-sama dengan anak-anak perempuan beliau serta istri-istri orang mukmin. Ini berarti hukumnya mengenai seluruh wanita mukmin.
5.       Dalam firman Allah: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak akan diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki nakal/jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganggu.

(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 52-56, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Kedelapan, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
 “Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 55)

ð Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah memerintahkan wanita-wanita berhijab dari laki-laki asing (bukan mahram), Dia menjelaskan bahwa (para wanita) tidak wajib berhijab dari karib kerabat ini.” Kewajiban wanita berhijab dari laki-laki asing adalah termasuk menutupi wajahnya.

Kesembilan, firman Allah:
 “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

ð Ayat ini jelas menunjukkan wanita wajib menutupi diri dari laki-laki, termasuk menutup wajah, yang hikmahnya adalah lebih menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki. Sedangkan menjaga kesucian hati merupakan kebutuhan setiap manusia, yaitu tidak khusus bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat saja, maka ayat ini umum, berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua wanita mukmin. Setelah turunnya ayat ini maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menutupi istri-istri beliau, demikian para sahabat menutupi istri-istri mereka, dengan menutupi wajah, badan, dan perhiasan. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal: 46-49, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Kesepuluh, firman Allah:
 “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

ð Ayat ini ditujukan kepada para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hukumnya mencakup wanita mukmin, karena sebab hikmah ini, yaitu untuk menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya, juga mengenai wanita mukmin. Dari kedua ayat ini didapatkan kewajiban hijab (termasuk menutup wajah) bagi wanita dari beberapa sisi:
***
Wallahu a’lam bishshawwab.
Be Positif, Proaktif, dan Produktif!
Wassalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh,
~*Aisyah Asyafiyah*~

Keutamaan Hijab

~*Keutamaan Hijab*~
.:Sudut Bumi 
اللَّهِ 18 Oktober 2011:.
الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ اللَّهِ بِسْمِ الرَّجِيْمِ الشََّيْطَانِ مِنَ بِاللِه أَعُوْذُ

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Alhamdulillah.. Alhamdulillahi robbil alamin asholatuwasalamu ashrofil ambiyai’ walmurshalin ama ba’du
"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwannnya. " (Asy Syams: 7-8 )

Sahabat fillah yang Aisy rindukan Lillahita’ala, khaifa haluk niih? Aisy berharap semoga senantiasa dalam kesehatan yang super, baik kesehatan JASMANI maupun ROHANI-nya, semoga kita dapat merasakan nikmat Islam dan Iman hingga menyerap ke sendi-sendi ini.
Sahabat, hari ini Aisy merenung.. Bagaimana ya jika hidup ini tanpa si ‘dia’ yang istimewa itu, yang siap sedia menjadi bagian dari ‘pasukan’ penjaga diri ini, tahu-kan? HIJAB, the lovely one! Tanpa dia, duh tidak terbayangkan deh! Apalagi sekarang Hijab itu makin seru, banyak jenis hijab dengan segala variasi, tapi sayang.. terasa tanpa essensi!

Sahabat, terasa-kah oleh kalian arus yang begitu hebat kini menyeret pemudi Islam, kaum Hawa, muslimah kita dengan sebuah kata sakti.. FASHION. Banyak sekali muslimah yang RELA menampakkan auratnya karena hal itu, dan banyak juga loooh muslimah yang berhijab tapi TIDAK RELA tertutup penuh dan KESASI alias Ketat Sana Sini. Padahal.. Yang menciptakan diri kita, jelas sekali berfirman.

يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang MU’MIN: “Hendaklah mereka MENGULURKAN JILBABNYA ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Thats mean.. itu fardhu ain, Sahabat, alias kudu’ wajib musti untukmu wanita muslimah yang cantik ^__^ Hijab itu KETENTUAN-NYA (Point 1).
Allah SWT berfirman:
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”    (Q.S. Al-Ahzab: 53)
Kalau membaca itu sahabat menangkap apa? J Ketika mata tidak melihat, hati-pun tidak berhasrat kan? Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya. Nah, Hijab itu KESUCIAN (Point 2). Allah SWT menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan.

Sahabat, ada sahabat Fillah yang pernah share tentang Hijab, ketika ia belum berhijab maka banyak sekali orang yang menganggu-nya entah mendekati atau ber-suit-suit ria, tapi setelah ber-hijab gangguan itu malah berubah jadi Doa; ‘Assalamualaikum’ J Hal ini Paaaas sekali dengan firman yang ini nih;

Allah SWT berfirman:
ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”         (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Itu karena hijab itu untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. So, Hijab itu IFFAH (Point 3) alias menahan diri dari maksiat. Dan,karena itu mereka tidak diganggu” adalah isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan. Ups... Ups...

Contoh pengalaman lain adalah dari seorang sahabat yang ketika jalan-jalan ke luar negeri dan memesan suatu menu makanan, ia malah dilarang oleh pelayannya, mau tahu kenapa? Karena makanan tersebut mengandung babi yang haram untuk muslim. Kenapa pelayan itu tahu ia muslim? Lewat angket? Nggak lah ya... tapi HIJAB-nya itu! Subhanallah.
Salah satu yang paling sering menjadi alasan PENUNDAAN berhijab adalah; PERBAIKI HATI dulu deh; atau IMAN itu kan di HATI ya nggak usah Jilbab-an deh! Untuk keyakinan yang satu ini pertanyaannya adalah.. YAKIIIN, masih ada umur? YAKIIIN Iman di hatimu udah ‘Oke’? Buktinya? hihi
Sahabat, mau tahu contoh orang yang hanya beriman dalam hati tapi tidak diamalkan dengan perbuatan? Ini adalah keadaan iblis. Dia percaya pada kekuasaan Allah, Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Dia meminta penangguhan kematiannya, dia juga percaya terhadap adanya hari Kiamat, tetapi dia tidak beramal dengan anggota tubuhnya. Allah berfirman yang artinya: "la (iblis) enggan dan takabur dan dia temzasuk golongan orang-orang kafir". (Al Baqarah:34) Dalam Al Qur'an setiap kali disebutkan kata iman, selalu disertai dengan amal, seperti: "Orang yang beriman dan beramal shaIih...” Amal selalu beriringan dan merupakan konsekuensi iman, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.

Dear sahabat yang belum berhijab dengan alasan "iman itu letaknya di hati", coba deh jawab yang ini, andaikata seorang kepala sekolah memintanya membuat laporan, atau mengawasi murid-murid, atau memberi pelajaran ekstra kurikuler, atau menjadi petugas piket untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir atau pekerjaan lain, logiskah jika dia menjawab: "Dalam hati, saya percaya dan sudah mantap terhadap apa yang diminta oieh direktur kepadaku, tetapi aku tidak mau melaksanakan apa yang dikehendakinya dariku". Apakah jawaban ini bisa diterima? Lalu apa akibat yang bakal menimpanya?
Sahabat ketahuilah salah satu keutamaan Hijab itu adalah; Hijab itu IMAN (Point 4)
Sahabat akankah kau gadaikan keindahan surga dengan azab yang pedih hanya karena engkau melanggar perintah Hijab yang begitu bermanfaat di dunia ini hanya demi; kesenangan dunia, pujian lelaki, fashion, atau karir? Naudzubillah.
Sahabat tahu tidak betapa luar biasa tidak ABADI-nya hal itu! Sebagai contoh, Disadari atau tidak, Fashion itu mirip seperti berkedip, hari ini booming A besok sudah berbeda, tapi pengikutnya berbondong-bondong ganti bersama; luar biasa deh ya! Sedangkaaan, yang ABADI itu tuh adalah hari akhir dimana ‘Fashion’ yang kita bawa hanya kain sekian meter bernama KAFAN bukan Kaftan xP. Kita juga tidak membawa gaji bulanan atau jabatan, tidak juga setumpuk SMS pujian lelaki. Kita membawa AMAL!


Sahabat yuk sama-sama meraih pahala dengan amalan HIJAB ini, yaitu mengembalikan Hijab kepada yang seharusnya, karena Hijab tidak sekedar mode, tapi juga bersyariat! Hijab yang sesuai syariat adalah; Hijab itu longgar, sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh. Tebal, hingga tidak kelihatan sedikit pun bagian tubuhnya. Tidak meniru mode pakaian wanita-wanita kafir, sehingga wanita-wanita muslimah memiliki identitas pakaian yang dikenal. Tidak memilih wama kain yang kontras (menyala), sehingga menjadi pusat perhatian orang. Hendaknya tidak menyerupai pakaian laki-laki, sebab hal tersebut dilarang oleh syara'. Tidak memakai pakaian yang sedang menjadi mode dengan tujuan pamer misalnya, sehingga ia terjerumus kepada sifat membanggakan diri yang dilarang agama.


Wallahu a'lamu bishshawab.
Marilah, marilah kita memakai AKAL kita untuk berpikir dengan bijaksana; menyusun pemikiran-pemikiran dengan taburan nilai Islam agama Rahmatan Lil Alamin, serta bangunlah! Karena sesungguhnya informasi-informasi itu telah sangat banyak. BACALAH! Demi mencapai kemenangan sejati kita.
Wassalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh,
Barakalllahu Fiikum,
~*Aisyah Asyafiyah*~

Beginilah Musuh Islam, Beginilah Umat Islam

~*Beginilah Musuh Islam, Beginilah Umat Islam *~
.:Sudut Bumi 
اللَّهِ 24 Agustus 2011:.
الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ اللَّهِ بِسْمِ الرَّجِيْمِ الشََّيْطَانِ مِنَ بِاللِه أَعُوْذُ

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Alhamdulillah.. Alhamdulillahi robbil alamin asholatuwasalamu ashrofil ambiyai’ walmurshalin ama ba’du

Khaifa haluk ya sahabat fillah? Aisy berharap semoga senantiasa dalam kesehatan baik JASMANI maupun ROHANI. Sahabat, sudah lama Aisy menemukan sebuah artikel yang menarik, mungkin tema-nya terasa ‘jadul’ namun belum tentu kita ‘up to date’ dalam mengikuti perkembangannya.

Sahabat, informasi kini sangat mudah didapat, hanya dengan klik.. klik.. klik, info dunia apapun rasanya memungkinkan untuk didapat dengan beberapa detik saja. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah KEMAUAN kita dalam mencari info-info bermanfaat itu, dan SIKAP kita setelahnya. Aisy berharap, setelah ini kita sama-sama lebih MAU membaca semua termasuk fenomena-fenomena, dan menunjukkan SIKAP sebagai hal-nya muslim sesungguhnya.

Artikel ini, seingat Aisy, ditemukan di software bunga rampai J namun yang tertera itu-pun dari; Kolom Tetap Harian Fajar, dengan judul 'Permainan Ibu Guru' by H.Muh.Nur Abdurrahman. Selamat menyimak sahabat J
Ibu Guru berjilbab rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, "Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!" Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!". Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."

"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu Guru"

"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan. "Bu Guru ada Qur'an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet. "Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang..."

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

Ini semua adalah fenomena GHAZWUL FIKRI (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya: "Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu." (9:32).


Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang MEMBIUS ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Maka tampak dari luar masih Muslim, padahal internal dalam jiwa ummat, khususnya generasi muda sesungguhnya sudah ibarat poteng (tapai singkong, peuyeum). Maka rasakan dan pikirkanlah itu dan ingatlah bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara, ingatlah akan Hari Pengadilan.

Wallahu a'lamu bishshawab.
Marilah, marilah kita memakai AKAL kita untuk berpikir dengan bijaksana; menyusun pemikiran-pemikiran dengan taburan nilai Islam agama Rahmatan Lil Alamin, serta bangunlah karena sesungguhnya informasi-informasi itu telah sangat banyak, bangunlah demi mencapai kemenangan sejati kita.

Wassalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh,
Barakalllahu Fiikum,
~*Aisyah Asyafiyah*~

Boncengan dalam Kacamataku!

~*boncengin dong !*~
.:Sudut Istana, 5 Agust 2010 pukul 13.11:.
re-edit : 9 desember 2011

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Bismillahirahmanirahim
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Alhamdulillah.. Alhamdulillahi robbil alamin asholatuwasalamu ashrofil ambiyai’ walmurshalin ama ba’du ♥

sahabatku sayang,
sebelum memulai pesan yg ingin kusampaikan ini,
izinkan aku bermukadimah sedikit :)
terkait catatan ini..

catatan ini kutulis lebih dari setahun yg lalu,
yg bisa jadi menimbulkan keberkenanan,
ataupun ketidakberkenan..

aku tidak ingin menghapusnya,
karena ini bagian dari pembelajaran buatku,

maka, cukuplah ambil kebaikannya
dan pelajari keburukan
tanpa mengutuknya
tanpa mengikutinya,
lalu buanglah yang sia-sia darinya

selamat membaca hasil re-editku ya! ^_^
~**~
sahabat, dewasa kini banyak sekali muslim dan muslimah
yang memiliki dan atau mengendarai sepeda motor
sebagai sarana vital untuk berpergian
entah menuju ke sekolah atau kampus,
tempat les atau kantor, atau sekedar jalan-jalan,

namun betapa merugi,
jika fasilitas yang telah Allah titipkan itu,
kita gunakan untuk pergi ke tempat-tempat
yang lebih banyak m.u.d.h.a.r.a.t.n.y.a
dibandingkan manfaatnya !

dan betapa teramat sangat merugi,
jika yang demikian itu mendekatkan kita,
pada maksiat dan zina.. ?!!
bukan pada-Nya~
pernahkah sahabat mendengar,
'mobil goyang di pantai anc*l'..?

naudzubillah himindzalik ..
innalillahi wa innailaihi rojiun~

sahabat sayang,
sungguh kehati-hatian-lah yang perlu ditanamkan,
dalam setiap tindakan seorang muslim..

aku sedikit mencermati,
gerak-gerik kaula muda,
yang jauh dari kehati-hatian..
dalam menanamkan nilai-nilai islam,
dan terhadap segala bibit-bibit keburukan,
yang mungkin terjadi

semisal, dalam kasus..
bonceng - membonceng
dengan lawan jenis..

'what?! please deh isy! thats soo simple..'

adakah sahabat yang berkomentar begitu..? :)
it's okey.. buatku ini juga simple,
karena itulah aku menulisnya,
karena ini.. s.i.m.p.e.l & aku akan
membuatnya lebiiiih simpel :p

kita akan bermain-main dengan imaginery,
dengan pandangan kedepan..
dari berbagai situasi dan kondisi
B for boy, and G for girl

ehem, *izin mengatur suara :p

lets klik.. play !!

*> G pulang kuliah, mulai malam angkot gak ada,
B : hai, gak ada yang jemput..?
G : iya nih..
B : kamu daerah X kan..?
G : yup !
B : mau bareng..? sekalian aja.. gak ada yang marah kan?
G : he he.. nggak kok, boleh-boleh.. ^__^
(one week later, mereka memadu kasih; atas nama 'cinta'
dan... ups si G tidak tahu, betapa banyak perempuan,
yang menjadi korban 'bonceng' si B *uuupppss...)

*> G pulang kerja, capeeek.. ah, yes ! nemu taksi !
B : kemana mba..?
G : ke X mas
B : capek ya mba..?
G : ..eeh, iya *lalu sms-an sama kekasih hati
B : sms pacar ya mba..?
G : ..eeh.. (mulai feeling gak enak..)
B : pacaran zaman sekarang macem-macem ya mba..?
tadi aja di sini ada yang begituan.. (mulai aneh..)
G : (grogi, bingung, topik 'sensor' soalnya)
B : dulu saya juga nakal gitu mba, minum-minum main perempuan.. dan bla bla bla
G : *glek! tidaaaaak~* (hanya bisa frustasi karena dilecehekan dengan kata-kata seperti itu, sedangkan ia hanya sendiri)

and klik.. pause !

sahabatku sayang, ♥
bolehkah kita menawarkan kebaikan?
dan menerima kebaikan..?
tentu sayang, tidak ada yang salah..
namun, tanamkanlah kehati-hatian
karena sesungguhnya ketika kita membonceng,
ataupun dibonceng seseorang yang bukan mahram

kenapa..?
aku khawatir kamu (sengaja atau tidak) menyentuhnya,

'Andaikata kepala salah seorang dari kalian
ditusuk dengan jarum besi, itu l.e.b.i.h b.a.i.k
baginya daripada menyentuh wanita
yang tidak halal baginya' *

dan kemudian, membuka pintu-pintu keburukan,
yang mana.. aku tidak ingin menjabarkan keburukannya
karena aku yakin sahabat telah dapat meng-update
informasi kriminalitas dg lebih luas sekarang ini..

karena itu sahabat,
aku berharap kita dapat menggunakan a.k.a.l ini
untuk dapat dengan cerdas menemukan alternatif lainnya,
sehingga kita bisa mencapai tempat tujuan kita,
atau tetap dapat menolong seseorang dengan niatan baik,
tanpa perlu melewati 'celah pintu keburukan'

sahabat sayang,
izinkan aku berbagi trik alternatif untukmu,
pertama-tama, mengapa tidak menggunakan saja kendaraan sendiri..? atau memiliki 'teman andalan'? :D

kedua, bila menggunakan kendaraan umum,
mengapa tidak sekalian bersama teman-teman..?
lebih irit dan ada yang teman ngobrol kaan?

ketiga, ketika ada yang tampaknya membutuhkan boncengan,
(semisal seorang gadis nan jelita dipinggir kota)
sungguh, sangat baik sekali
ketika niatan menolong itu datang ♥♥
tapi.. bukankah lebih baik jika..
jalan-nya-pun baik dan benar..?
semisal.. memberikan ia uang transportasi
atau, mencarikan yg se-mahram buatnya?

keempat, jika berhubungan dg hidup dan mati,
maka segeralah menolongnya !
namun tetaplah menggunakan akal,
untuk terhindar dari keburukan
yang bisa bermacam-macam bentuknya..

hmm.. sesungguhnya,
menurutku, sekarang ini..
kita lebih mudah untuk dapat berhati-hati
dalam perkara ini, asalkan kita mau menjadi..
♥ m.a.n.d.i.r.i dan b.e.r.a.n.i.. ^_^ hi hi
___
'Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,
maka jangan sekali-kali dia bersendirian
dgn seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya,
krn yg ketiganya ialah s.y.a.i.t.a.n.' (Riwayat Ahmad)

'Katakanlah kepada orang laki-laki yang ber-i.m.a.n,
’Hendaknya mereka menahan pandangannya
dan memelihara kemaluannya' (QS.24: 30)

*(HSR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 226)

__
Barakallahu Fiikum,
Wassalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh
~*`syafiyah`*~

When Muslim Sicks

♥~♥ When Muslim Feel Sick ♥~♥
.:Dunia Fana, 14 Juli 2011 pukul 18.22:.
re-edit : 9 desember 2011

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,
Allahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaa aali Muhammad,
kamaa shollaita 'alaa Ibraahiim. Innaka hamidum majid.. ♥


dear my lovely sisters
yang semoga di rahmati اللَّهِ ^__^

ditengah banyaknya nikmat,
ada sebuah nikmat yang begitu terasa manfaatnya
ketika kita 'kehilangan' ia, kita seakan tiada berguna,
tanpa daya.. begini susah, begitu sulit
bicara-pun jadi malas, ingin berbaring lamaa lamaa
mengeluh kesah, dan semua-mua !

sebuah nikmat,
yang tiada bandingannya
yang akan kita bicarakan adalah..
kesehatan

Setiap orang yang beriman
pasti akan diberikan ujian
ujian tersebut beragam bentuknya,
sesuai kondisi dan kadar keimanan seseorang

ujian bisa berupa kesenangan
dan bisa pula berupa kesusahan !
dan salah satu dari bentuk ujian tersebut adalah..
tertimpanya seseorang dg suatu penyakit
yang menggerogoti dirinya.

sakit itu adalah ujian & takdir-Nya,
tiadalah pantas kita menjadi bagian dari kaum;
yang mendzalimi diri kita sendiri dengan berbagai penolakan,
keputusasaan bahkan kebencian.

Naudzubillah himindzalik.

Sebagai seorang muslim,
we must think like muslim,
feel like muslim, and act like muslim.

Dan, agar kita menjadi bagian dari kaum yang ridho
ada baiknya kita cek ricek adab-adab ketika sakit :

(¯`*•.¸♥. 1.Tabah dan Sabar Ketika Menjalani Sakit serta tidak mencacinya

“Hai orang-orang yang beriman,
mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan s.a.b.a.r
dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah
berserta orang-orang yang sabar ” (Al-baqarah 153)

(¯`*•.¸♥. 2. Hendaknya dia memiliki sikap raja’ (berharap atas rahmat-Nya) dan rasa khauf (takut dan cemas dari adzab-Nya)

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
pernah mendatangi seorang pemuda yang sedang sakit.
kemudian beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaanmu?”

Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah,
sungguh saya sangat mengharapkan rahmat Allah
dan saya takut akan siksa Allah dikarenakan dosa-dosa saya.”

Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua sifat tersebut ada pada seorang hamba
yang dalam keadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan
apa yang dia harapkan dan akan memberi rasa aman
dengan apa yang dia takutkan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

(¯`*•.¸♥.3. Tidak diperbolehkan baginya untuk mengharapkan k.e.m.a.t.i.a.n

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mendatangi pamannya ‘Abbas yang sedang sakit.
Dia mengeluh dan berharap kematian
segera datang menjemputnya.

Maka beliau bersabda kepadanya:
“Wahai pamanku, janganlah engkau berharap
kematian itu datang jika engkau adalah orang baik,
maka engkau bisa menambah
kebaikanmu, dan itu baik untukmu.
Namun jika engkau adalah orang yang banyak melakukan kesalahan,
maka engkau dapat mengingkari dan membenahi kesalahanmu itu,
dan itu baik bagimu. maka janganlah berharap akan kematian.”
(HR. Ahmad dan Al-Hakim dari shahabiyyah Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha)

Namun ketika ternyata dia tidak bisa bersabar dan harus melakukannya, maka hendaknya dia mengucapkan:
“Ya Allah hidupkanlah aku
apabila kehidupan itu lebih baik bagiku.
Dan matikanlah aku apabila kematian itu
ebih baik bagiku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

(¯`*•.¸♥. 4.Tetap Mengerjakan Shalat

shalat merupakan kewajiban
yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali.
meskipun dalam keadaan sakit
seorang muslim harus tetap menjalankan ibadah shalat
terutama shalat wajib. akan tetapi dalam keadaan sakit..
ada keringanan tersendiri.

“Karena itu bertakwalah kalian kepada Allah
menurut kesanggupan kalian dan dengarlah serta taatlah”
(QS At-Taghabun : 16)

(¯`*•.¸♥. 5. Boleh Mengadu Selama Bukan Untuk Pelampiasan Kekecewaan

Saat sakit mendera tubuh maka rasa sakit dan nyeri
pasti kita rasakan, maka diperbolehkan mengadukan
kepada orang lain
selama itu bukan ungkapan rasa kekecewaan
kepada Allah atas rasa sakitnya.

Rasulullah SAW sendiri pernah mengadu
kepada Abdullah Bin Mas’ud : “Aku rasa badanku amat panas
sampai dua kali lipat badan kalian waktu demam” (HR. Bukhari)

jika ada seseorang yang dalam keadaan sakit
kemudian menangis dan kemudian menghujat Allah SWT
kemudian memaki dan berkata kotor kepada orang disekitarnya
maka hal ini sangatlah dilarang.

Siapakah diri kita? Hingga kita melakukan hal ini? Naudzubillah. Dan inilah yang disebut pelampiasan kekecewaan atas derita sakitnya.

Sebaiknya sebelum kita menyampaikan rasa sakit
yg dirasakan maka terlebih dahulu pujilah Allah,
sebagaimana sabda Nabi Ya’kub AS
ketika beliau sedang menderitra sakit :
” Hanya aku adukan kesedihan dan kedukaanku kepada Allah”

(¯`*•.¸♥. 6. Berikhtiar

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum
kecuali kaum itu s.e.n.d.i.r.i yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Salah satu usaha yang harus kita lakukan adalah
mencegah sebelum kita jatuh sakit,
dan mengobati ketika penyakit itu telah menghinggap.
dan suatu kewajibanlah kita mengenal diri kita,
mengenal kondisi tubuh kita agar kita tidak salah
dalam memilih makanan dan lingkungan;
demi menghindari faktor-faktor yang dapat membuat kita sakit.

__
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Kami akan mengujimu dengan keburukan
dan kebaikan sebagai cobaan
(yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (QS. al-Anbiyaa: 35).

dari berbagai sumber


___
♥ Syafakillah my sister ♥
Barakallahu Fiikum,
Wassalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh

~*syafiyah*~