Rss Feed

ShoutMix chat widget

Mau seperti ini?
Click aja disini---> Kumpulan Blog Tutorials
Tampilkan postingan dengan label Sayap-Sayap Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sayap-Sayap Hati. Tampilkan semua postingan

Terharu


"Terharu. Kata itulah yang selalu mengiringi ingatan saya ketika kembali pada tanggal 29 September 2013, hari dimana (bahasa saya saja) ada sebuah silaturahim akbar, inti acara itu sesungguhnya hanyalah tentang silaturahim saya, ayah dan dirinya, namun disertai juga dengan silaturahim keluarga besar saya dan keluarga besar orang yang saat itu masih begitu asing, melainkan juga teman-teman yang begitu saya sayangi, serta tetangga yang mungkin sebagian besar tidak tahu bahwa di daerah itu hiduplah seorang gadis bernama "Vera". Saya benar terharu mendapati adik-adik, teman mengaji, kakak kelas, dan sahabat-sahabat dari Semarang yang bela-belain naik kereta 2x dalam kurun waktu 24 jam menempuh waktu sekitar 16 jam beserta macet dan kesasar. Beberapa diantaranya malah mencari tempat yang bisa disinggahi untuk menginap. Dan beberapa diantaranya bahkan datang ketika maghrib, menyempatkan diri setelah suatu acara, ah terharu. Serta teman KKN dan kekasihnya yang tersasar sana-sini hingga akhirnya sampai. Ada juga teman SMP yang bela-belain datang sehari sebelum acara, langsung dari Bogor dan izin dari agenda ini-itu untuk hari H hanya buat bertemu muka dan berbagi cerita. Lebih-lebih teman-teman komunitas yang sudah sekian lama tidak berjumpa akhirnya dipertemukan lagi di hari itu, mereka yang dulu ditemui pas ABG kini sudah beranjak dewasa, ah waktu, bahkan ada yang sudah membawa satu prajurit ganteng loh ^^. Nah, yang tidak boleh tidak disebut adalah keluarga Rohis SMA yaitu kakak-kakak, adik-adik, dan khususnya angkatan 2010 yang sudah meluangkan waktu dari berbagai agenda padat mereka, mereka yang memorinya selalu ngangenin. (Ah ya untuk adik-adikku saya tidak terbayang bagaimana kalian membungkus kado dan membawanya ke rumah, berat banget loh, dan ketika dirangkai berasa kalau kita dikerjain  panduangannya bikin cenat-cenut kepala, si dia sampai begadang loh hehe). Ada juga senior yang baru punya baby yang datang di hari sabtunya sebab salah hari, terakhir ketemu beliau adalah ramadhan 2010 saat masih nyinggel tak tahunya bertemu sudah bawa si tembem. Dan, umahat yang aku sayangi (senior juga) yang tanpa diduga datang bersama mertuanya. Senangnya. Apalagi bertemu sama sohib main SMA, yang sudah lebih dari 3 tahun tidak bertemu, jarang sekali terkoneksi, disana-dipelaminan- kita berjam-jam ngobrol tanpa henti nyuekin si dia, lucu kalau diingat. Nah, ada juga teman main yang nyebelin sangat, mungkin harus di capslock nyebelinnya, yaitu... geng SMP, yang ketika dikabari aku mau nikah mereka tuuuuh... flaaaat banget seakan-akan tidak ada tanda-tanda kehidupan, kupikir mereka tidak akan datang sebab sibuk dengan agenda mereka, gak tahunya tiba-tiba datang serombongan dan ketawa haha-hihi-haha-hihi, ternyata mereka melakukan koordinasi sendiri. Yah well mereka memang begitu ^^ sekalipun udah lama nggak ngobrol dan temu muka tetap ngangenin deh. Pun juga dengan beberapa teman SD yang sayangnya tidak sebanyak yang diharapkan, sebab pas liburan tidak ikut reuni harapannya bisa reuni disini, lumayanlah ada beberapa yang hadir. ^^ Sekalipun ada raga-raga yang tidak hadir, namun saya menemukan kumpulan hadiah yang dititipkan, ah... terharu sekali mendapatkannya, insyaAllah akan sangat bermanfaat.

Yeah, tidak ada yang bisa dikatakan selain alhamdulillah wa syukurillah, 'terimakasih telah ada dalam perjalanan hidupku' kata inipun mungkin tidak bisa mewakili sepenuhnya, ah ya sudahlah, maklum lagi terharu :')"

-lo(ve)- 

Seseorang

Di dalam hidup kita, akan selalu ada ruang untuk seseorang, yang bisa jadi tidak pernah benar-benar dikenal. Bahkan pada sebagian orang, namanya-pun tidak ia ketahui. Seseorang itu masih begitu abstrak, kabur, tidak jelas, serta penuh ketidakpastian. Namun, entah bagaimana caranya seseorang itu begitu banyak menguras pikiran dan perasaan, dari hari ke hari, tahun ke tahun. Kehadirannya selalu dinantikan untuk mengetuk pintu masuk ruang itu.

Sayang… ada orang-orang yang membuka pintunya lebar-lebar dan membiarkan sembarang orang memasukinya. Atau ia tidak membiarkannya masuk namun dirinya-lah yang keluar dan mencari kepuasan-kepuasaan dari berbagai “seseorang”, dan sayang ruangnya itu tetap kosong-hampa. Beruntung masih ada sebagian orang lagi yang menyibukkan diri untuk menghias ruangan itu semampu yang ia bisa, baik dengan dinding-dinding doa, pernak-pernik rindu, lampu-lampu ilmu. Ia mengunci pintunya rapat-rapat. Hanya ada satu alasan ia membuka ruang itu demi seseorang yang telah lama ia nantikan, yaitu… ketika terdengar tiga ketukan.


Ketukan pertama adalah sapaannya dalam sebuah proses ta’aruf, ketukan kedua ada dalam istikharah dan “yes I do” yang terucap, dan yang ketiga adalah yang paling penting yaitu… saat akad terucap. Maka… ruang itu-pun akan terbuka lebar, membiarkan satu-satunya “seseorang” hadir dan menyemarakkan ruang dengan banyak kebaikan dan kemuliaan. Lantas… bersamaan dengan itu ruang tertutup dengan sendirinya, sebab ruang itu sudah penuh dengan keberadaan “seseorang”.

Dan, bagiku ruang itu sudah penuh dengan seseorang, teramat spesial!

Zahir


Saya mahasiswa psikologi yang ngalor-ngidul di Semarang, tidak punya televisi, dan malas nonton Tv. Tapi, ketika di Jakarta, saya suka sekali nonton televisi sebab menyuguhkan chanel-chanel luar yang kaya akan pengetahuan. Seperti National Geoghraphy, FOX, WaltDisney, Sport, dan banyak lagi. Salah satu acara yang saya suka selain sinetron Ghost Whisper  adalah “Brain Games”. Gak asing kan namanya? Tapi ini bukan menyuguhkan game-game yang mengasah otak untuk icebreaker, melainkan acara ini menyuguhkan... mmm.. kalau bahasa saya : “bagaimana otak mempermainkan kita”.

Apa yang kita lihat-rasa-dengar dan kita yakini itu benar, sebab keterbatasan otak dan indra nyatanya bisa saja adalah salah-bohong-dan... menipu. Banyak sekali eksperimen-eksperimen di Brain Games ini yang memperkuat statement saya diatas. Hal ini juga semakin menegaskan bahwa kita manusia, manusia yang sempurna dengan ketidaksempurnaannya. Lengkap. Alhamdulillah. Tapi, jangan dikira “dipermainkan otak” adalah hal yang melulu negatif, tidak juga.. seperti kata sebelumnya : ia melengkapi. Ada kalanya manusia butuh fokus dan adakalanya tidak perlu fokus, keterbatasan ini-lah yang membantu kita untuk menikmati hidup yang harus dinikmati. Our weakness is our power..!

Nah, menilik judul tulisan diatas “Zahir” yang berarti “tampak”. Jika ada yang tahu buku Zahir Paulo Coelho, tentu bukan ini yang mau saya bicarakan hehe. Saya jadi teringat perjalanan saya ke Jakarta menaiki kereta malam, seorang laki-laki bule duduk dihadapan saya dengan seorang wanita yang... yah, apa ya jika boleh dikatakan seleranya para bule. (Aih, kesimpulan dari mana ini hehe~). Nah, selera baju saya ini kalau kata orang-orang (dan kata saya) sih InsyaAllah syar’i dengan warna ungu lavender yang cantik dan jilbab lebar yang menutup tangan, plus jaket jeans gaul!

Sebab saya duduk sendiri dan lupa berat untuk membawa buku, saya ambillah al-Quran yang belum selesai beberapa ayat lagi. Dan, biasanya orang bule itu tertarik sama Islam, jadi memang juga diniatkan untuk “opening conversation” huehehe. Yup! Benar saja, beberapa ayat saya baca dengan suara pelaaan sekali, dia sudah bisik-bisik dengan temennya itu tentang nabi Musa dan nabi Isa (Mungkin dia kira saya gak bisa bahasa inggris, ya.. memang tidak bisa sih haha). Selesai membacanya saya bilang, “Sorry kalau saya mengganggu” Trus dia bilang kalau dirinya muslim. Wah, asyik nih. Bicaralah dirinya kesana-kemari tentang Islam, dan salah satu perkataannya adalah : “Your style is fanatic”. Halis saya naik, ya dia bilang walau dia gak pakai jenggot dan style-nya kayak gitu dia adalah Muslim sejak kecil dan dia tahu islam. (Btw, “Dibilang fanatik, rasanya gimana ve?” Seneng dong~ Sayang seharusnya malam itu saya pakai warna hitam dan purdah sekaligus, mungkin nanti dibilang “Your Style is Teroris” tuh. Haha. #Ketawa Miris --,--) Yup.. gak usah diceritakan sebab capek ngetiknya tentang betapa banyaknya diskusi yang dia sampaikan, tapi cukup saya “menerima jawaban” dengan melihatnya mesra-mesraan dengan teman perempuan seksi yang bukan mahramnya itu, di depan saya. (**Tahu dari mana kalau dia bukan mahram? Ya dia bilang sendiri, ini temennya yang dia temui “di jalan”, “info sahih” kan? hehe)

Yup, yang perlu kita ingat adalah “Ilmu-Amal-Akhlak”. Ada orang yang akhlaknya super kece, baiknya gak ketulungan, hobi menolong dan suka membantu, murah senyum pula, tapi olalala... pas ditanya ilmu agama, tetoooot! Pincang!. Ada orang yang amalan rutinitas ibadahnya luar biasa, pakaiannya beeeh syari’ sekali tapi pas bicara kiiit... nyelekit, tetangga sebelah duh tak dikenal, senyum? Jaraaaang banget!!. Sama aja deh.. pincang! Ada juga yang ilmu-nya tahu, akhlaknya lumayan, tapi... amalan hariannya jauh dari syariat Islam, kepalanya aja yang seperti perpustakaan, diambil kalau butuh dan cuma untuk sekedar “cukup tahu aja”, dan tingkah lakunya lebih mirip lampu disko, kelap-kelip dengan berbagai bentuk kerugian. Ini sama aja buatku.. sama-sama pincang!

Dan nyatanya... kita semua pincang kok! Gak usah sok pede dengan bilang “Enak aja, gue gak pincang, ilmu gue banyak, amal gue baik, akhlak gue mulia” Apa dirimu lupa, itu masuknya ke arah sombong loooh~ Rasulullah aja yang udah dijamin masuk surga, shalatnya aja sampai kakinya bengkak-bengkak, MasyaAllah. Sekali lagi, beliau yang DIJAMIN MASUK SURGA, lah kita berani jamin gak bisa nyium bau surga dari miliaran kilometer?. Menjamin diri kita tetap taat dalam ketaatan sampai akhir hayat, juga gak bisa. Sudahlah, kita sempurna dengan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia, kita banyak yang pincang! (KITA juga berarti : saya)

Perkara yang Zahir atau yang tampak secara fisik, bisa jadi memang menandakan ketaatan kepada-Nya, saya tekankan BISA JADI, sebab yang melihat adalah mata ini dan yang tahu hati-hati itu yang Cuma Allah. 

Coba deh pikirkan betapa banyak diantara mereka yang sesungguhnya melewati kecaman dan tantangan luar biasa, kecemasan dan ketakutan, sebelum akhirnya memutuskan untuk bejilbab yang panjang, memelihara jenggot atau tidak isbal demi mengharapkan cinta Allah, bukan pandangan manusia. Saya jadi ingat teman saya, bagaimana ia sempat dikucilkan, dijauhi bahkan oleh sesama muslim dan muslimah sebab keputusannya memakai penutup wajah, dan seringnya mengupdate ilmu-ilmu islam. Yang saya tangkap adalah upaya keras untuk menjadi taat, menjadi muslimah yang diridhai Allah.

Kita memang tidak dihadapkan oleh penguasa yang dzalim, yang akan menindih tubuh kita dengan batu puluhan kilogram atau melempar ke dalam kobaran api jika mereka yang menyerukan “Ashadu’alaa ilahailallah wa ashadu ana muhammad rasulullah”. Tapi, jangan-jangan kita sering menjadi teman yang dzalim kepada teman kita sendiri yang sedang belajar untuk –sebut saja- “meminimalkan stadium pincangnya”...? Kita memang tidak boleh langsung membunuh laki-laki yang menyibakkan jilbab wanita muslimah sebagai bentuk perendahannya, seperti kisah zaman dulu itu. Tapi... jangan-jangan kita seringkali langsung “membunuh perasaan/hati orang” yang tidak sengaja atau sengaja merendahkan muslim-muslimah yang mencoba untuk ta’at dengan syariat. 

Mungkin kita perlu belajar bagaimana agar “otak tidak mempermainkan kita” dalam melakukan penilaian kepada orang lain --btw, sesungguhnya berhak-kah kita menilai orang lain? Yang berujung pada “Sok Tahu”...?—bagaimana kalau saya ubah bahasanya? “Mungkin kita perlu belajar bagaimana agar “otak tidak mempermainkan kita” dalam bermuamalah dan bergaul dengan orang lain..?”

Mungkin yang pertama adalah, minimalkan harapan... tidak dipungkiri orang yang seringkali “mengupdate hal-hal islami” diharapkan memang memahami dan mengamalkan “islam”, maka cukup tangkap yang “islam-islam” itu saja darinya, ketika ada yang dirasa tidak islami darinya ya tidak usah ditangkap, ingat itu bukan islam, jangan campur aduk. Ini berlaku untuk SEMUA ORANG. Kalau kata Ahmad Deedat, yang kurang lebih... “jangan lihat islam dari orangnya tapi lihat Islam dari Islam-nya.” Ingat juga.. di zaman Rasulullah, sang tauladan terkeren, yang potongan zahir fisiknya seperti rasululullah aja banyak juga tuh yang munafik dan tukang adu domba, zaman-zaman kita juga banyak yang zahirnya sesuai syariat tapi Cuma dipakai untuk jadi topeng, berkamuflase menghancurkan syariat itu sendiri, banyaklah kasusnya!. (So.. kita minta saja kepada Allah semoga kita tidak dijadikan golongan merugi dan munafik dan tidak dipertemukan atau kena tipu orang merugi dan munafik. Haha. )

Mungkin yang perlu sama-sama kita ingat adalah... yang mencoba “ta’at” adalah manusia, dan yang menyindir “keta’atan” atau “ketidaktaatan” orang lain juga adalah manusia. Manusia adalah hamba, dan manusia seringkali khilaf dan lalai. Manusia punya hati yang semoga yang ta’at semakin ta’at, dan yang belum taat dimudahkan untuk mendapatkan hidayah.
Semoga saja kita bukan menjadi pelaku “Brain Games” yang membuat otak orang lain merasa tertipu, sebab melihat sesuatu yang tidak seperti yang terlihat. Semoga akhlak yang diupayakan untuk mulia, amal yang diupayakan untuk tidak mendzalimi, dan ilmu yang diupayakan untuk mumpuni dapat mendatangkan barakah dan keridhaan-Nya.

Semoga tidak hanya jilbab kita yang panjang tapi doa kita dan upaya belajar memperbaiki diri juga panjang.

Peace, Love and Syari’

Duhai Miss, Permisi Ya Saya Gak Tahan!

Mungkin bisa jadi kita sering gak adil dalam... *apa ya bahasanya* meminta penegakan kebenaran, menyindir mereka yang bermaksiat, atau  menolak apa-apa yang dirasa mendzalimi. Semisal saja #MissWorld. Berbondong-bondong orang bilang *termasuk saya* tolak MissWorld, sebab ini-itu-gini-gitu gak sesuai dengan syariat, merendahkan perempuan, tidak sesuai dengan budaya islam atau budaya Indonesia dll dkk. Yup, saya juga sepakat dan ini sah-sah saja. (Walau pada akhirnya isu ini nyatanya luntur dari per-facebook-an kita sebab berganti dengan peristiwa-peristiwa memiriskan lainnya) Tapi, setelah saya menemukan lagi  yang namanya televisi dan berbagai hiburannya, setelah sekian bulan tidak “benar-benar menontonnya”, saya berpikir kembali, seharusnya gak cuma MissWorld yang  yang harus di-tolak habis-habisan! Why?

Yah, nyatanya harus berkali-kali saya merasakan miris yang semiris-miris-nya, sebab banyak sekali Miss-Miss yang alar-ilir di pesinetronan, realityshow, acara lainnya yang gaya pakaiannya lebih PRIMITIF dibandingkan Acara Miss World, Putri Indonesia, Putri Pariwisata, dan yang serupa dengannya. Dan parahnyaaaa... sebagian besar dari mereka adalah yang ber-KTP “Muslimah”, sedangkan kita tahu sendiri kalau MissWorld sebagian besar bukan Muslimah, jadi tentu kalau boleh membandingkan mana yang lebih miris saya lebih miris dengan gaya miss-miss-an di televisi kita. Lebih miris dan menjengkelkan lagi adalah ia ada : setiap hari!!!!!!

Duh, kalau belajar psikologi ada tuh istilahnya modeling atau imitasi, kalau anak-anak usia SD dan SMP dan SMA atau kuliah atau malah kerja sekalipun setiap hari disuguhkan pakaian yang terbuka disana-sini, celana pendek, orang-orang pakai legging, dress-dress unyu diatas lutut. Ya, bisa-bisa itu jadi simbol “tombol pengesahan” dibolehkannya rakyat Indonesia untuk meniru gaya itu. Nah, kalau gaya itu ditiru itu berarti mereka melanggar kesopanan Indonesia, yang lebih parahnya “tombol pengesahan” untuk membuat muslimah kompak melanggar syariat. “Duh, makasih banget loh ya televisi kita!” kata setan-setan.

Gak dipungkiri sih ada ribuan orang yang bergantung kebutuhan hidup pada acara-acara yang begitu itu, gak dipungkiri juga ribuan orang yang menjadi korban sebab rusaknya moral dan akhlak. Misal tadi pagi saya baca tuh seorang wanita dibunuh pacarnya saat minta bertanggungjawab atas kehamilannya. Jangan tanya saya “apa hubungannya?” sebab kalau saya mau hubung-hubungin ya bisa banyak. Misal aja, sinetron atau pesinetron kita hobinya melakukan “edukasi cara pacaran” eeeh.. banyak tuh pemuda yang ikutan pacaran dan merasa keren, terus televisi kasih tahu fashion yang lagi trend itu yang pendek dan nerawang dikit-dikit, nah ikutan juga deh mereka. Terang-terangan setan menggoda dan berhasil terjadilah perbuatan yang kalau dalam islam harusnya dihukum rajam, dan masuk dalam dosa yang benar-benar merugikan. Alhasil, makin banyaklah korban-korban yang berjatuhan. Kebetulan saya suka mantengin berita kriminal dari kecil, dan paling sebel dengan kasus beginian.

Jadi karena saya bukan siapa-siapa dan kalau saya bilang ke televisi begini-begitu juga mungkin gak akan didengar, jadi buat saya cara terbaik adalah dengan rumah tanpa tivi atau gerakan tivi sehat yang hanya dipakai untuk menyetel VCD-VCD edukatif, atau chanel-chanel edukatif. That’s it. Lebay? Ya boleh deh kalau dibilang lebay dalam hal yang saya percaya ini baik, habis saya sudah tidak tahan sih! Kesal pakai banget soalnya~


Semoga saja ada juga yang ingin menjadikan solusi ini sebagai solusinya juga, kamukah itu...? ^^

*Nasehat Bapak




Anakku,

1. Hanya orang2 yg suka ber-lebih2anlah yg punya sepatu/sandal mahal, apalagi malah mengkoleksinya. karena ketahuilah, saat kalian sedang ramai berpesta, berlalu-lalang di mall, di lobby2 gedung, kurang dari 1% orang yg sempat melirik kaki kalian. coba buktikan datang ke sebuah acara ramai. bahkan tdk ada yg nyadar kalau engkau datang cuma nyeker. Dan hanya orang2 yg super keterlaluan berlebih2anlah yg membeli jam tangan mahal, karena sungguh, semahal apapun jam miliknya, jarum jam tangannya tidak akan bergerak lebih cepat atau lebih lambat dibanding siapapun

2. Bahkan motivator paling ulung, group band paling ngetop, orator kelas berat, pernah (dan lumrah saja masih sering) grogi saat tampil di depan umum. bapak mu bahkan selalu gugup saat bicara di depan umum, jadi santai sajalah, tdk usah cemas. jgn lupa baca bismillah.

3. Hidup ini adalah ujian. kenapa begitu? karena meski kita semua tahu ujian itu berat dan menyebalkan. orang2 tetap saja sibuk membuat UTS, UAS, ujian nasional, ujian semesteran-an, ujian les, dan sebagainya.

4. Kalau kau ingin mengenali karakter orang dgn cepat dan tepat, perhatikan saja saat ada kejadian yg membuat panik, kaget, atau menakutkan tiba2. dengarkanlah kata yg diucapkannya. perhatikanlah ekspresi wajahnya.

5. Kalau kau ingin tahu seberapa taat seseorang dgn sunnah Rasul. maka perhatikan ketika ia berwudhu. seberapa besar ia membuka keran air.

6. Anakku, salah-satu syarat mutlak agar kau bahagia adalah: kau bahagia dan (memang) berbahagia melihat orang lain (teman, saudara, bahkan musuh) hidup lebih beruntung.

7. Cinta sejati tdk pernah datang dari satu-dua kejadian. satu-dua kalimat. cinta sejati adalah konsistensi dan komitmen panjang. dan kau tahu, sayang. ibu adalah cinta sejati-mu (maka berhentilah meng-gombal-i anak gadis orang).

8. Kelak jika kau sudah besar, kau boleh saja tdk suka, melawan, atau bahkan bertengkar dengan bapak, nak. tapi jangan sekali-kali. jangan pernah sekali2 kau bilang ‘ah’ pada ibu-mu.

9. Jangan habiskan waktu untuk berdebat, sedikitlah bicara. ah iya, karena besok saat kau besar dunia sudah banyak berubah, jgn habiskan waktumu utk ‘menulis’ mendebat sesuatu.

10. Jangan pernah bingung karena kau harus memilih. karena di luar sana banyak orang yg hanya punya satu pilihan. dan lebih banyak lagi yang bahkan satu pun tdk mempunyai pilihan.

11. Jatuh cinta dgn someone special itu binatang apa? percayalah, meski seluruh perasaan cinta seperti ini diambil di muka bumi, dunia tetap baik2 saja (apalagi kau yg sedang patah-hati)… akan tetapi satu saja cinta seorang ibu kepada anaknya diambil, maka seperti rusak sudahlah seluruh kehidupan.

12. Jangan pernah takut melakukan sesuatu. kalaupun gagal, kau bisa mengulanginya lagi… lagi… dan lagi… Abraham Lincoln bahkan 8x gagal mencalonkan diri. kau tahu siapa dia? Bapak juga tidak kenal dekat dengan dia.

13. Ingatlah, ‘pertanyaan yg baik’ selalu lebih baik dibandingkan ‘jawaban yg sempurna’. mendengarkan selalu lebih baik daripada buncah bicara. sayangnya, ketika kau dewasa kelak, semakin banyak saja orang yg suka bernarsis ria dengan ‘kata-kata’, dan selalu merasa bisa memberikan ‘jawaban yg sempurna’.

14. Jangan pernah bersedih kalau kau tidak pintar bicara. hargailah pendapat orang lain, bahkan bila kau benci sekali dgn pendapatnya, dan pendapatnya keliru. ini akan membedakan seberapa dewasa kau menghadapi liberalisme, demokrasi, dan kata canggih lainnya di masa2 kelak.

15. Hal yg paling menyedihkan adalah ketika kau ‘menjilat’ dgn seseorang (entah itu atasan, senior, pemilik, penguasa atau sesuatu yg berkepentingan)… dan sebaliknya kau justeru ‘aniaya’ dgn orang lain (entah itu bawahan, yunior, atau orang sederajat dgn dirimu).

16. Kalau kau ingin kaya, jadilah pedagang… jgn pernah jadi PNS, pejabat, guru, hakim, polisi, dsbgnya… itu tdk akan pernah membuat kau kaya… kalau kau ingin hidup tenteram, tenang, maka jadilah petani (sebenar2nya petani)

17. Berpetualanglah melihat dunia… meski hanya ke kampung sebelah, meski sempat ke kota sekitaran, itu sudah awal yg baik untuk mengenal kehidupan orang lain… dgn berpetualang, kau akan semakin dewasa.. dan jelas, bapak tdk bisa menceritakan lbh banyak soal dataran tibet sana dibanding kau melihatnya sendiri

*Tere Lije

Confusing Shoping

First post on September

Well, seumur hidup kita, transaksi jual dan beli tidak akan pernah terlepas, sebagaimana tidak akan pernah terlepasnya manusia dari kebutuhan dan keinginan. Awal sepetember ini, saya melakukan sebuah shopping journey, istilah saya saja., yang berarti perjalanan belanja yang tidak hanya khusus untuk belanja. Melainkan juga untuk mengamati atau bahasa ilmiahnya observasi, merenungi, dan mencari pemaknaan-pemaknaan yang mungkin dulu diabaikan. (Semisal mengapa musti membeli ini dan mengapa tidak musti, mengapa menyukai ini dan mengapa dulu tidak suka, mengapa musti menimbang, mengapa musti menawar, dan mengapa dan mengapa lainnya termasuk pola-laku pengunjung dan pedagangnya) Sebab itulah, shoping yang bukannya happy malah membuat confuse. Ada-ada saja.


Journey pertama saya adalah ITC Permata Hijau, sebuah departement store yang begitu banyak bertebaran di Jakarta dengan nama yang berbeda-beda. Apa yang saya dapat disini...? Selain dua buah pakaian dan makan, saya belajar beberapa hal dari seorang Ibu owner sebuah butik dimana saya memesan beberapa baju. Beliau adalah ketua komite sekolah di Jakarta Selatan, punya banyak kenalan dari dinas-dinas pendidikan, sudah berkeliling dunia, punya anak yang tinggal di Qatar, suaminya bekerja dibidang perminyakan. Ibu ini adalah ibu yang "wanita sekali" menurutnya, suka memasak, mengerjakan kerajinan tangan, berkebun, mengasuh ketiga anaknya sendiri, dulu memberi asi ekslusif, dan hobinya adalah mendesain pakaian dan memakai pakaian berekelas. Yup, tidak dipungkiri beberapa desainnya memang cantik sekali, dan beberapa diantaranya seakan mewakili "brand" yang kuinginkan. Keunggulannya adalah bahan pakaian yang digunakan dan detail yang diperhatikan. Manik-maniknya saja import dari Jepang, beberapa desain diadopsi dari Paris, beberapa bahan juga hampir sekelas dengan Prada, kain batiknya pun yang per kainnya sendiri beliau beli seharga 1,2 juta, belum dengan jasa pemasangan manik-manik dan sebagainya. Mungkin ini yang membuat pakaiannya dibandrol berkisar 500 ribu - 3 juta rupiah. Catatan khusus : usia beliau belum genap 60 tahun, butiknya telah ada hampir 8 tahun. Luar biasa! MasyaAllah.

Journey selanjutnya adalah Pondol Indah Mall, yang bisa dikatakan paling bergengsi di Jakarta, selain Taman Anggrek. Sudah sangat lama saya tidak pernah menginjakkan kaki di PIM, mungkin selepas saya kuliah di Semarang. Dulu jika kesana yang paling saya nanti-nanti adalah sesi ke Toko Buku Gramedia, disana bukan hanya lengkap tapi sangat lengkap! Menyenangkan! Pertama kali saya mengunjunginya bisa dikatakan ketika berumur 6 atau 7 tahun. Apa yang saya pelajari dari PIM..? Baiklah... pertama-tama izinkan saya merasa heran, sebab banyaknya pengunjung yang datang, sangat banyak, dan itu baru di PIM 1 belum di PIM 2 dan mal-mal lainnya, dan itu baru hari minggu itu, belum minggu-minggu lainnya. Selain itu... izinkan saya merasa heran kembali, dengan banyaknya wanita-wanita yang bening-bening, dan berwajah "kaya". Hal ini membuat saya berpikir, "ternyata Indonesia banyak yang kaya" terlebih harga pakaian yang ditawarkanpun berkisar Rp.299.000 - jutaan. Tapi, balik lagi... penampilan itu banyak menipunya. Saya juga jadi berpikir, adakah diantara mereka-mereka itu yang memiliki harapan "rumah", "pembangunan", "pengabdian" lalu saya berpikir lagi.. mungkin orang-orang yang punya harapan itu tidak menghabiskan minggu malamnya di mall. Tapi, sekali lagi... pemikiran ini prasangka, bisa jadi mereka yang berpenampilan begitu ternyata memiliki organisasi besar untuk membantu kalangan tak mampu dan sebagainya, who knows kan? Yang perlu kita pastikan adalah, bagaimana sesungguhnya letak kita. Kita ada dibarisan yang mana..?

Dalam sebuah penantian, ada kilasan pemikiran yang hinggap di kepala saya... Jika memang di dunia ini hanya ada 2 jenis status : Kaya dan Miskin, maka... ada 4 sub-status atau dinamika yang mungkin terjadi, yaitu :

(1) Kaya dan mengkayakan orang lain
(2) Kaya dan memiskinkan orang lain
(3) Miskin dan mengkayakan orang lain
(4) Miskin dan memiskinkan orang lain

Sayangnya, semua hanya baru pada dinamika ini, belum pada bagaimana pengembangannya dan konsep-konsep matangnya. Tapi, saya sudah tahu saya ingin letak saya ada dimana, InsyaAllah. Yang mungkin juga letak semua orang.


~*aisyah asyafiyah*~
02.09.2013

Pengalaman itu dicatat, agar tidak lenyap.
Agak menyayangkan dengan banyaknya pengalaman yang lenyap.

Sebab, Aku Wanita


Terkadang aku bertanya-tanya, sesungguhnya bagaimana hakikat perempuan itu, apa sesungguhnya perannya di dunia, bagaimana ibadah yang benar dan tepat baginya, sisi keadilan apa yang ia miliki, kekuasaan apa yang boleh ia raih, jihad apa yang seharusnya ia lakukan, bagaimana seorang perempuan muslimah kaffah berkarya?

Tidak jarang aku menemukan banyak perempuan muslimah yang hilir-mudik berkarya atau berpetualang hingga membuatnya butuh kesana kemari sendiri, beberapa diantara mereka juga senang menulis sesuatu namun seringkali kisah-kisah yang ia bagi atau terbitkan adalah tentangnya yang menurutku terlalu personal, ada juga perempuan yang merajut bisnis bersama kekasih/temannya yang tidak halal atau begitu semangat kuliah demi pujian mereka. Dan banyak muslimah yang berbisnis namun, aku merasa jauh dari syariat. Mungkin sebagian orang anggap "sukses" namun bagiku tidak. (Semoga perasaan ini sejalan dengan syariat bukan sebab "excuse" karena keengganan mencoba dan berusaha, semoga senantiasa diberikan ilmu yang bermanfaat...) Sayangnya, sekali waktu ada bisikan yang menumbuhkan rasa cemburuku, sebab aku kadang merasa bahwa kehidupan mereka bisa jadi jauh lebih bermanfaat, mereka lebih menemukan perannya sebagai wanita.. Mereka bisa membuat orangtua mereka bangga, dengan tidak lagi meminta, atau membelikan dan membantu adik-adiknya sekolah, ada juga yang dengannya memiliki jauh lebih banyak teman di berbagai belahan indonesia bahkan dunia, wawasannya semakin luas, beberapa diantaranya tahu tempat ini-itu, orang ini-itu, sebab memang banyak "bergerak".

Lantas, aku menengok diriku, dan mungkin banyak diantara muslimah lain-pun yang merasakan hal yang sama. Ada sisi dilematis, terlebih.... pandangan bahwa perempuan itu lemah, dan anggapan bahwa ada diantara laki-laki yang memanfaatkan perempuan. Betapa sejak lama aku membenci kasus ini dan aku khawatir semakin membencinya. (Mungkin sebab terlalu banyak membaca kisah-kisah memilukan). Namun yang akan kubicarakan adalah sisi dilematisnya, satu sisi perempuan tidak ingin dianggap lemah, namun ia sendiri seringkali menyakini bahwa orang lain menganggapnya lemah. Dan kelemahan perempuan sholehah tentu berbeda dengan perempuan yang mencintai dunia (seharusnya memang berbeda, benar kan?) Kelemahan perempuan sholehah tentu adalah ketika (minimal) ia merasa tidak sesholehah teman-temannya yang lain serta terlewatnya beberapa peluang kebaikan. Sedangkan rasa lemah perempuan umumnya bisa jadi ketika karirnya tidak setinggi temannya, pemasukan juga tidak sebanyak temannya, pacar atau suami tidak sekaya dan sesukses suami temannya. Namun, perempuan sholehah juga adalah perempuan, tidak jarang sebagian perasaan itu menghampirinya, dan obat terbaik adalah rasa cukup dan ridho

Lebih dilematis adalah saat ketika dikatakan bahwa neraka itu lebih banyak wanita, wanita juga ujian bagi pria, selain itu akal-nya-pun lebih kurang dari pria, dan laki-laki dikatakan memiliki kelebihan atas wanita. Dan... yang tidak kalah "meresahkan" adalah... ketika wanita mengetahui bagaimana agama memandangnya dan memintanya untuk menjadi sebaik-baiknya wanita. Bisa jadi ketika menjadi anak atau tetangga, perannya tidak jauh berbeda dengan laki-laki namun ketika menikah ia memiliki kriteria tambahan kembali untuk menjadi sebaik-baiknya perempuan. Sangat penting baginya ridha seorang suami, ia haruslah menyenangkan bagi suaminya, menaati perintahnya, menjaga rumah dan harta, menjaga dirinya dari fitnah lelaki lain, terlebih... sebaiknya ia adalah perempuan yang subur, dan penyayang. Ternyata PR perempuan begitu banyak, beruntunglah mereka yang telah memiliki hal ini sebelum mereka menikah. Di lain sisi... kita lupa, bahkan peran laki-laki-pun berubah ketika ia menjadi seorang suami. Tentu ada dilemanya tersendiri. 


~*aisyah asyafiyah*~



Dari Hati untuk Sahabat

"Duhai kekasihku, sahabatku, cintaku di dunia.. Tiadalah ada di muka bumi ini, gading yang kokoh dan keras tanpa memiliki retak, tiada ada pula malaikat utuh yang hidup dihati-hati kita tanpa cela, dan adakah kau temukan pakaian tanpa noda diantara tumpukan pakaianmu? Laa~ tidak. 

Sebab itu, mari kita sama yakini benar... ada kebaikan yang ada padamu, dan ada keburukan yang begitu mencolok pada padaku..., pun sebaliknya. Semoga Allah meridhai kita memiliki hati yang begitu lembut melebihi sutra atau marsmellow yang kita bakar diperapian, begitu manis melebihi gula-gula merah jambu yang kita beli di pasar rakyat, ^^ kala... mendapati hal yang tidak berkenan dihatimu dan dihatiku, sebab kita hanyalah manusia, bukan bidadari. Dalam perjalanan kita, kekasihku-sahabatku.. perjalanan yang mungkin singkat, lama namun terasa sebentar, ataupun yang telah begitu lama ini...

Aku mungkin banyak merepotkanmu, kadang memintamu menghubungiku, jarang bertanya kabar tentangmu, meng-sms-mu sekedar merusuh saja, merengek-rengek minta didengar, ataupun begitu tak peduli dan asyik sendiri. Aku-pun mungkin sering diam, mendengar dirimu membicarakan mimpi-mimpi-harapan-cita, dan tak banyak kusahuti, maaf bukan aku tak peduli.. aku bahagia mendengarkan konsep yang begitu tampak nyata dari kamu yang luarbiasa. Mungkin juga, aku terlalu banyak bicara, saat aku tahu dirimu sedang butuh didengar, maaf aku lupa, aku memang pelupa, kamu tahu itu ^^. Kadang juga, mungkin aku tidak bisa dihentikan ucapannya, ataupun begitu minimalis dalam berkata, tapi... terimakasih sudah selalu ada. Sahabatku, kekasihku, cintaku di dunia.. aku tahu, mungkin kamu tidak cuma punyaku, tapi.. aku ingin selalu ada buatmu dalam berjuta kebaikan, dalam pengharapan-pengharapan, sebab... sebab kita pernah berbagi tawa bersama, berbagai sedih, berbagi cita, dan itu menyenangkan, semenyenangkan upaya menjaga hubungan ini.

tengoklah masa lalu, adakah aku untukmu? maaf jika nyatanya aku tidak ada buatmu kala itu, kala ini, atau kedepan, sebab i am only human"

always with love___

Pengalaman Demo


__________________

*lagi gak mau anggun*
Untuk sebagian kaum, demo adalah pilihan yang begitu tampak jelas, mudah, dan cepat membuahkan, pun juga asyik sebab bisa bertemu banyak orang. tapi buatku, nggak... kenapa? begini ceritanya..

Pada suatu hari... di hari yang cerah, remaja di penganut ababilisme (baca : SMA) setelah kumpul ngaji atau makan sama teman dan seorang mba, eh diajak aksi.. apa itu aksi? nggak tahu.. ngapain sih aksi itu? lebih nggak tahu... ikut aja.. temen-temen pada gak mau ikut, ya udah saya sama mba itu aja deh. Kita naik bis, dengan kecepatan ala supir jakarta, bukan semarang. Melewati daerah yang agak jauh dan agak asing... wuiiisss... (anak rumahan mulai menjelajah dunia jakarta euy! buta jalan begitu diajak jalan, heboh dalam diam deh!) Dan sampailah ditempat yang dituju dengan agak selamat.. Dirinya terpaku.... tatara taraaaa... "oh ada bendera palestina, oooh penggalangan dana, oooh... jalan kaki rame-rame.. ooh begitu... ikut deh!" seru-nya kala itu. Kalau tidak salah itu... berjalan dari bunderan sampai... monas apa ya... lupa deh.. Honestly, tahu masalah palestina dulu aja sepotong-sepotong, ikutan aja, intinya kita harus dukung muslim yang lagi diserang musuh.. (dan honestly lagi.. saya baru bener-bener tahu masalah palestina itu beberapa bulan lalu, soalnya dulu kajian-kajian yang diikuti ngupasnya gak pakai dalil dan ayat, jadi masih berasa ngambang~ yah... maklumlah ABB -anak baru belajar-)

Dia ikut deh.. jalan-jalan.. asyik deh.. ngelihat banyak orang, banyak teman... banyak perempuan huwaaaw... dan juga banyak ikhwan *ehem-ehem, abaikan.. saya percaya sih ada akhwat yang larak-lirik dan ikhwan yang larak-lirik, biar dirasa keren ikut begituan.. padahal mah nggak ngerti masalahnya* trusss... saya syok bin sangat... banyaaaaak banget pendemo yang merusak tumbuhan yang tumbuh di kota jakarta itu, huwaaaw.. sekalipun saya ABBMCB -Anak baru belajar, masih cupu banget- kala itu.. tapi saya pernah baca bahkan diperangpun kita gak boleh ngerusak pohon, lah ini pan adem ayem kenapa pula pohon cantik nan anggun yang tidak berdosa apa-apa diinjak-injak sebab demi terciptanya jalan alternatif, nggak satu dua pohon, buanyaaak. Dan, eng ing eng... kembali terkejut dengan... sampahnya luar binasa! Lagi-lagi... sekalipun saya ABBMCB tapi saya inget tuh.. kalau kita pan harus taat sama pemerintah dalam ketaatan, nah pemerintah melarang kita buang sampah sembarang, dan kebersihan adalah sebagian dari iman, lah ini kenape banyak sampah....?? (tapi saya tetap lanjut jalan...) Alhasil.. tibalah kepenghujung tempat, setelah nyumbang beberapa perak, dan shalat.. saat-nya pulang. Sebab mba itu arahnya berbeda, alhasil.. seingat saya.. saya yang polos itu harus pulang sendiri, melanglang buana di siang yang keras bersama kecutnya jakarta, ntah kemana.. (T_T) untung jiwa petualang saya muncul, saat itu saya belum banyak tahu kalau ada adab perjalanan bagi wanita, jadi saat itu nyantai aja... untung slamat sampai tujuan, gak kena colek abang-abang.

yah, dari pengalaman ini.. saya jadi sering nolak ajakan demo.. mikir-mikir berkali-kali.. BBM naik, sambut lebaran, mengisi lebaran, TanpaJIL, palestina, apalah.. saya lebih suka mengendap di rumah atau dikajian di masjid. Sekalipun saya menolak suatu perkara buruk atau mendukung suatu hal yang teramat baik, demo bukan pilihan saya. jika saya ingin dunia tahu tentang hal-hal itu, that's still not my style. Pergerakan terbaik selalu dari masjid, kayaknya, setuju? sepakat? apa sepakat banget?. Tapi jika nih ya... hanya jika suatu hari.... memang haruusss, udah mentok banget tuh masalah, nggak bisa nggak kalau tanpa terjun kelapangan, supaya orang tahu.. supaya orang sadar... sok atuuuuh.. saya mah gak saklek, saya dukung deh semua kaum adam yang ngaji untuk terjun sebagai upaya ikhtiarnya, dan akhwat-akhwatnya cukup nyiapin... apa itu sebutannya... amunisi ya? Yup itu! dan kumpul deh di rumah akhwat2nya.. untuk tilawahan bareng, saling menguatkan, di rumah siape gitu dah... pan percaya kekuatan doa kan ya?, atawa hadist kalau wanita yang dirumah pahalanya bisa kayak mujahid, percaya kan ya? kan? kan? PTS duong ya? (Bukan perguruan Tinggi swasta, tapi Percaya Tanpa Syarat kalau udah perihal yang sahih-sahih begindong)

yah, ini sih segelintir pengalaman saya.. semoga aja nyang ber-azzam demo besok, yang udah nggak ABBMCB atawa ABB aja, bisa senantiasa menjaga syariat, aamiin~~

support by sosmed aja yah saya mah~ santai belum lengkap tanpa... syari'~

--still with lo(ve)

Empat Tahun NgeBlog!

September 2009 - September 2013

Semakin banyak kita membaca, semakin kita tahu, dan seharusnya semakin kita tahu kita juga semakin berilmu. Hakikat berilmu adalah memahami dengan benar dan mampu menuangkan kembali atau mengolah kembali ilmu tersebut. Bentuk penuangan dan pengolahan indikatornya bukan sebatas kemampuan menjawab atau menuliskannya, namun juga praktik. Ilmu pengetahuan pun bukankah diciptakan untuk menjadi solusi berbagai macam permasalahan? Sebab itu, penuangan dan pengolahan serta praktiknya pun harusnya menjadi bagian dari penyelesaian suatu masalah. Lantas... sudahkah saya berhasil melakukannya?


Sayang... sayang sekali, sejauh ini saya banyak menulis namun sedikit membaca. Atau saya cukup banyak membaca, namun apa yang saya tulis berbeda sekali dengan apa yang saya baca itu. Mungkin ini yang menjadi masalah saya, mengapa saya seringkali lupa dengan apa-apa yang saya tuliskan, saya tidak benar-benar memahami. Saya tidak benar-benar menuangkannya dengan perhatian penuh bahwa tulisan itu untuk saya sendiri. Bisa jadi semua itu hanya demi orang lain, dan melupakan bagian diri saya atas makna tulisan atau nasihat itu.

Saya seringkali hanya menulis apa-apa yang saat itu saya ingin, sebatas suka, atau sebatas butuh yang sayangnya jarang disertai pemahaman yang cukup. (Baiklah ini dengan standar saya sendiri). Semakin seseorang banyak membaca, maka akan semakin terlihat wawasannya, terlihat pula bagaimana matangnya. Jika saya melihat diri saya... ah... saya tidak merasakan adanya banyak pembeda antara saya tahun ini, tahun lalu, atau tahun-tahun sebelumnya dalam tulisan saya. Ya mungkin, beberapa puisi tampak menjadi pembeda tapi tema dan topik hampir serupa, walaupun saya belum menarik kesimpulan apa-nya yang serupa. Banyak hal yang saya lewati, yang sayangnya juga tidak banyak terekam dalam tulisan-tulisan. Sampai kapan saya akan melakukan blogging...? Sampai kapan saya akan menulis? Entahlah...

Entah adalah jawaban tidak pasti, dan kepastian saya berhenti menulis memang tidak pasti. Saya hanya perlu kembali banyak membaca, membaca dan membaca. Membaca sesuatu yang berbeda, membaca fenomena, membaca alam, membaca inspirasi. Apapun itu. Setelahnya, saya butuh lebih memahami dan... mengamalkannya.

Apa gunanya ilmu, jika ia tidak dimanfaatkan untuk beramal? Bismillah.

~*Aisyah Asyafiyah*~
31/07/2013

"Jangan Cintai Dia"



Adakah kau lihat... tatapan wanita yang tajam itu sesekali menyisakan sebentuk rasa tak percaya akan makna keberadaannya di dunia. Sebab itu, jangan pernah mencoba mencintainya, jika engkau menolak mempercayai dirinya. Serta, jangan pernah mendekatinya, jika engkau menyempitkan apa-apa yang membuatnya mengecup manisnya rasa percaya, sebab itu berarti engkau menikamnya pada titik paling mematikan.

Suatu waktu, adakah kau lihat diantara pandangan lembut matanya terdapat kecintaan yang dalam (hanya) bagi dirimu yang mau menjaganya sepenuh hati. Sebab itu, jangan pernah mencoba mencintainya, bahkan hanya untuk melukis senyummu jika engkau hanya berniat menorehkan luka dikelembutan hatinya.

Adakah kau lihat... arah pandangnya menyusuri garis-garis ketegasan? Maka, jangan cintai dia, jika engkau bermaksud bermain-main saja, sebab itu hanya akan merugikan dirimu tanpa mengurangi kehormatannya.

Dapatkah kamu merasakan gerak pandangannya yang meluas pada selaksana potret mengabadi, ada mimpi disana... banyak mimpi untuk memaknai hidupnya yang sekali.. sebab itu... jangan mencintai dia jika engkau tahu bahwa dirimu mudah berpaling pergi.

Jika kamu pernah menatapnya, tampakkah bagimu lingkar hitam matanya adalah pertanda harapan tanpa tepi, cintailah ia jika kamu-pun begitu, sama menginginkan cahaya pengharapan menebar-menyebar. Maka, jangan mencintainya, jika kamu adalah orang yang mudah memadamkannya.

Kerling matanya, sesekali menandakan egoisme namun lebih sering adalah berpikir dalam ruang renungnya. Jangan mencintai dirinya, jika kamu bahkan menginginkan sepenuhnya ia untuk dirimu dan ambisimu saja, tidakkah kau tahu ia-pun hadir dan pulang kepada-Nya dengan membawa namanya sendiri...?

Mampukah kau mendalami makna tatapannya? Ada berjuta warna-warni dirinya, sebagian besar warna ingin ia bagi denganmu, beberapa warna ingin ia bagi pada dunia,  dan... mampukah kamu menerima bahwa ada warna yang hanya bisa ia bagi dengan Tuhannya. Sebab itu, jangan pernah mencoba mencintainya, jika kamu begitu egois meningginginkan ia memenuhi egomu. 
Jangan mencintai dia, jika kamu memadamkan rasa percayanya, harapannya, bahkan identitasnya. Jangan mencintainya, jika kamu hendak mengabaikannya, meninggikan inginmu, atau berpaling pergi.  Tidakkah terasa bagimu, bagaimana Tuhan menyayanginya?

Maka.... cintailah dia, sebab engkau tahu... keseluruhan hidupmu adalah ketika ia ada disampingmu dan kamu disampingnya, mempercayaimu dan kamu mempercayainya, memberikan harapan bagimu dan juga baginya, membuatmu tahu makna dan tujuanmu serta tentunya makna dan tujuannya. Cintailah dia, dalam setulusnya perhatian, dengan meninggikan kebaikan, dan siap bertahan dalam ketaatan maka ia akan mencintaimu dalam tulus, baik dan bertahan.


dalam keta'atan
~*aisyah asyafiyah*~

Dilema (Maha)Siswa


Keinginan banyak siswa adalah tetap menjadi siswa. Lantas kemudian menjadi mahasiswa. Pernyataan ini terbukti. Bukankah setiap tahun terjadi regenerasi di berbagai jenjang pendidikan melalui penerimaan siswa baru pun juga penerimaan (maha)siswa baru. Seleksi ujian masuk perguruan tinggi membuat birokrasi dan administrasi berada pada masa paling sibuk di bulan-bulan ini. Baik itu kampus kecil yang entah ada di dekat gang rumah siapa, maupun kampus dengan nama besar yang begitu dikenal dari desa pelosok sampai belahan dunia. Mereka semua tentu berebut bibit terbaik bangsa dengan membuka iklan, roadshow, seminar demi tercapainya misi pendidikan. Disadari atau tidak disaat yang sama semua juga berebut bibit terbesar pemasukan kantong universitas. Kita tahu kini biaya mahal adalah syarat utama mewujudkan keinginan menjadi maha. Sepakat?

Bagi sebagian kaum, untuk mewujudkan keinginan ini mereka hanya perlu tidur di malam hari. Jika beruntung bisa saja tiba-tiba ia berada di ruang kelas yang berisi sekian puluh mahasiswa membahas kontrak kuliah pada pertemuan pertama. Lantas di pagi hari ia terbangun dan menjadi linglung atas jalan mana yang harus ia tempuh untuk meraihnya? Sebab cintanya berat diongkos, berani mewujudkannya berarti berani menjadi setengah hidup; butuh perjuangan mati-matian. Bagi sebagian kaum lainnya, mewujudkan keinginan masuk perguruan tinggi, adalah semudah ia mengirim sms “sudah makan belum?” kepada pacar barunya. Begitu ringan, cepat dan menyenangkan. Dua potret yang berbeda memang.

Pribadi menyenangkan dengan prestasi gemilang seringkali membuatnya tetap harus bertopang dagu. Hal ini disebabkan status tidak berpunya merebut kemerdekaannya untuk memilih jurusan dan universitas yang ia inginkan. Bukankah ada beasiswa? Sudah menjadi rahasia umum bangsa, bahwasannya pengejar beasiswa di Indonesia sudah terlampau banyak dan dengan syarat-ketentuan berlaku. Kompetisi untuk meraih beasiswa bisa jadi sama tingginya dengan kompetisi seleksi masuk jurusan kedokteran universitas terfavorit (jurusan yang bisa dikatakan jurusan sejuta umat di Indonesia). Kita ketahui bersama, tingkat perekonomian dengan status sosial dibawah rata-rata (sebut saja miskin) jumlahnya juga masih terlampau banyak. Ini berarti kompetisi antara satu anak tidak berpunya dengan ratusan anak tidak berpunya lainnya, masih sangat besar. Sebab kita tahu, jika orang kaya saling sikut antar orang kaya, maka orang miskin juga sikut-menyikut dengan sesamanya. Lantas, kemana sisa puluhan anak tidak berpunya yang tertolak beasiswa? Entah.

Padahal dalam budaya kita disertai pandangan pendidikan karakter, apa akhir sebuah jenjang pendidikan selain “ijazah”? Banyak mahasiswa yang hanya bergerilya dari satu tugas ke tugas lain lantas kemudian dilupakan, sebab ia juga lupa atau sengaja melupakan esensi dari kata belajar. Tidak heran bagaimana ia bisa lupa hakekat belajar, sebab pikirannya hanya terfokus bagaimana caranya modal yang dikeluarkan bisa kembali lagi dengan bekerja. Anggapan umum setelah lulus dan memiliki gelar sarjana adalah bekerja, dengan selayak-layaknya pekerjaan demi tertebusnya “hutang biaya masuk kuliah” kepada orangtua. Hingga begitu stress ketika mendapati dirinya menganggur tanpa pasti. Jika seperti ini, maka ia tidak ubahnya hanya seorang siswa semata, bukan mahasiswa. Siswa yang memiliki gelar maha yang berarti “paling/diatas/tinggi” serta berkesan superior dan “paling tahu” sepatutnya memang lebih tahu dibandingkan mereka yang masih bergelar “siswa”. Baik lebih tahu akan ilmu atau menempatkan dirinya. Semisal, jika memang harus berbakti maka berbaktilah, itu perintah Tuhan, bukan semata-mata sebab “hutang-piutang” di dunia.

Bahwasannya, menuntut ilmu bukan semata-mata jurusan atau nama besar suatu universitas. Sebab bukankah mereka yang bersekolah di alam terbuka, homeschooling, bahkan pesantren juga melakukan proses belajar mengajar. Lantas apa yang membedakan atau menyamakan satu sistem dengan sistem yang lain? Jawabannya adalah keutuhan diri dalam menjalaninya. Ialah yang menyamakan sekaligus membedakan “siapa lulusan apa” “siapa dari universitas apa” “siapa ber-ipk berapa” antara satu dan lainnya. Ia-lah yang menjadi kunci bagaimana seharusnya hidup dijalani untuk mendapatkan pembelajaran yang paling sejati.
____
Intelectual play. still learning.

Renung Syria


--ini renungan yang benar-benar renungan,
yang tidak tertahankan untuk tidak dibagi--

Baru saja.
Saya melihat foto seorang gadis TANPA wajah, di home saya.
Dari sebuah pages yang memang concern pada kasus ini.
Bukan... bukan karena kelainan atau penyakit, atau keturunan.
Melainkan karena perang yang berkecamuk di suriah.
Wajahnya masih penuh darah dengan satu selang masuk, entah ke mulutnya, hidungnya atau apa (T_T)

Bisa saja saya memasangnya dan menunjukkannya pada teman-teman.
Tapi.. bahkan saya, bahkan saya yang (cukup) menikmati film SAW (walau tetap tidak sepenuhnya) saja tidak mampu memandangnya dg mata terbuka...! Sekalipun hanya satu detik. Hanya satu detik.
Saya tidak ingin berbagi kengerian ini, khawatir kalian lupa makan.

Hal ini membuat saya berpikir ulang.
Sebab beberapa menit yang lalu, saya begitu terharu, dengan sebuah film "SHOOTER" well, saya tidak menontonnya hanya 10 menit pertama.
Saat kedua prajurit itu dikhianati pasukannya sendiri.
Dan saat salah satu prajuritnya yang merindukan "pulang" untuk bertemu anaknya, nyatanya harus tewas tertembak.

Itu film, dan itu membuat saya hampir menangis.
Saya tidak pernah suka tema pengkhianatan ditengah ketulusan penuh yang diberikan. Rasanya seperti diinjak-injak, dicampakkan, ditelan bumi.
(Tapi ini bukan ikhlan coffee itu)

Dan foto gadis kecil tadi membuat saya berpikir.
Begitu kerdilnya perasaan-perasaan orang "kota" seperti kita.
Mau ditipu perasaan-perasaan semu, padahal.. disana.. faktanya..
adanya.. pastinya... mereka sudah benar-benar berdarah-darah..
dengan ratusan tembakan setiap harinya.

Lantas kita...? disini...
Masih sering terjebak perasaan-perasaan remeh-temeh~
"bingung makan apa" - galau
"ac/kipas mati & gerah" - sebal
"motor mogok" - kesal
"gak ada yang sms/chat" - mood drop!
"ujian gak bisa" - hopeless
"gak disapa balik" - badmood!
"menu pesanan datang terlambat" - marah
"diomelin guru" - sakit hati
"gak ada uang" - nangis
"hujan..." - ngeluh
"panas..." - ngeluh
"cucian numpuk" - ngeluh
"amanah numpuk" - juga ngeluh

Yah, begitulah tabiat kita sebagai manusia.
Sayangnya, yang belum berubah "akal" dan "iman"-nya harus dipertanyakan. pun juga saya.
____
*saatnya belajar psikologi islam & psikologi wirausaha
*back to reality
*jihad kita berbeda
*ini nasib kita, itu nasib mereka
*namun yang namanya saudara, ketika kakinya yg tersentuh duri, mata-lah yang ikut menangis. sama. sakit-nya sama.

___
aisyah asyafiyah

Me is "not me"

Bisa jadi itu sebuah judul yang membingungkan, itu berasal dari sebuah quotes namun saya kehilangannya tapi memahaminya. Kita memang bukan melulu "kita adalah" melainkan kita "bukan adalah" juga adalah bagian dari kita. Bingung? Saya akan memberi contoh, misalnya :

Saya ingin mendapat IPK 3,5 sebab IPK dibawah 3,5 itu bukanlah saya.
Saya ingin rumah yang ada di lingkungan yang bersih, sebab rumah kotor bukanlah saya.
Saya ingin mempunyai kitab-kitab, sebab tanpa kitab bukanlah saya.
Saya ingin gamis syari', sebab pakaian mini bukanlah saya.
Saya ingin rumah luas, sebab rumah sempit bukanlah saya.
Saya ingin dunia ilmu agama, sebab dunia fashion bukanlah saya.
Saya ingin pernikahan sederhana, sebab pernikahan mewah/megah/ramai bukanlah saya.
Saya ingin lulus tepat waktu/cepat, sebab lebih dari itu bukanlah saya.
Saya ingin aktif berdakwah, sebab duduk diam bukanlah saya.
Saya ingin menulis setiap hari, sebab menyimpan informasi sendiri bukanlah saya.
Saya ingin membatasi diri dari lelaki, sebab berlebihan dengan mereka bukanlah saya.
Saya ingin sewajarnya bersahabat dengan perempuan, sebab teramat dekat bukanlah saya.
dst, dll...

Ini mengartikan adalah memperjelas diri dengan kata "TIDAK" agar lebih fokus sebenarnya kita ini seperti apa dan mau bagaimana. Sehingga tidak perlu memusingkan "apa dan bagaimana" orang lain, serta membuat diri kita hanya melihat kekurangan kita tanpa kelebihan, sebab pencapaian-pencapaian orang lain. Baiklah sekali lagi kenali sisi "TIDAK"-mu! Dan terus bergerak maju untuk bermanfaat!

Saya tidak ingin ke paris. Saya ingin ke mekah. Saya tidak ingin pesta mewah. Saya ingin syar'i dan sederhana. Saya tidak ingin mobil mewah. Saya ingin mobil yang kuat dan cukup. Saya tidak ingin tinggal di lingkungan kumuh. Saya ingin bersih dan menyejukkan. Saya tidak ingin tinggal di lingkungan padat. Saya ingin di lingkungan asri. Saya tidak ingin di lingkungan terpencil. Saya ingin dilingkungan yang ada doket dan ustadnya. Saya tidak ingin menjadi mawapres. Saya ingin aktif mengikuti seminar. Saya tidak ingin menganggur. Saya ingin memiliki aktivitas penuh manfaat. Saya tidak ingin jadi penulis novel teenlit atau cerpen fiktif. Saya ingin menjadi penulis kontemplatif-inspiratif. Saya tidak ingin membaca puluhan novel picisan. Saya ingin membaca ratusan kitab dan novel inspiratif. Saya tidak ingin menonton gosip/film tidak jelas. Saya hanya ingin menonton film inspiratif-butuh berpikir-berkelas-dan psikologis. Saya tidak ingin bertubuh gemuk. Saya ingin ideal atau kurus. Saya tidak ingin memakan junkfood sekalipun di restaurant ternama. Saya ingin menjaga kesehatan dengan vegetarian atau di restaurant terpercaya. Saya tidak ingin belajar hipnosis. Saya ingin khusyu' dalam shalat dan dzikir. Saya tidak ingin cantik secara fisik. Saya ingin cantik secara psikis dan spiritual. Saya tidak ingin berteman dengan orang yang mengedepankan dunia. Saya ingin berteman dekat dengan yang mengingatkan saya dengan akhirat. Saya tidak ingin diperhatikan orang. Saya ingin dipertimbangkan. Saya tidak ingin barang berkualitas rendah. Saya ingin barang berkualitas tinggi sekalipun hanya satu dan awet. Saya tidak ingin berpergian sendirian. Saya ingin ditemani dalam berpergian.  Saya tidak ingin meminta terus. Saya ingin mandiri. Saya tidak ingin menunda kelulusan. Saya ingin lulus kurang dari empat tahun. Saya tidak ingin pergi ke mall/tempat hiburan. Saya ingin pergi bertafakur. Saya tidak ingin hanya tahu satu-dua kota. Saya ingin berkunjung ke kota-kota di pulau jawa. Saya tidak ingin ke banyak ke luar negeri. Saya hanya ingin ke mekah dan canada. Saya tidak ingin punya satu atau dua anak. Saya ingin anak lebih dari lima.

Mungkin ini sedikit penjelasan, bagaimana contohnya.
Harapannya dengannya kita lebih tahu, "mereka adalah mereka"
dan "kita adalah kita"
 ~*syafiyah*~

Saya berharap tidak ada yang membacanya saja.
Tapi segera menuangkan.


Life is real!

"Life is real.
sebagaimana adanya degup jantungmu." -- lo(ve)

saya cenderung sepakat dengan perkataan tere liye,
"wanita adalah makhluk kepastian"
suatu "teori" yang memang cenderung valid!

[[wanita nyatanya lebih mudah cemas,
bila dihadapi dengan sesuatu yg labil,
yg abstrak, yg dualdimension,
sebab : perasaannya!

wajar. nikmati saja.
selama tidak menjadi "gangguan kecemasan"
keep control, dan banyak berpikir!
sebab rasa cemas juga bagian dari usaha
mempertahankan keberlangsungan hidup
apa jadinya jika nenek moyang kita
tidak memiliki kecemasan,
bisa jadi ia "habis ditelan alam"
(^^) peace!]]

sebab, hidup memang satu kali.
bukan coba-coba.
tidak ada trial and error!
tidak ada restrart ulang!
prinsipnya jelas : "leave it or take it!"

tidak ada yang benar-benar "try"
sebab yang ada adalah "do!"

tidak ada yang benar-benar "missed"
yang ada adalah "lost!"

life is not practice,
life is real, very real!

dalam konteks yang lebih dalam, prinsip kepastian,
nyatanya harus dimiliki oleh semua orang~

kepastian apakah itu?

tidak lain adalah :
kepastian tujuan-tujuan hidup!
beserta tindakan jelas&bertanggungjawab!

saya membaca dari sebuah buku,
yang sedikit mengulas tentang apa yang disesali
oleh 4000 pensiunan eksekutif sukses
yang telah berusia 70 tahunan

dengan pertanyaan :
"Jika anda bisa mengulang kehidupan anda lagi,
apa yang akan anda lakukan secara berbeda?"

dan jawaban terbanyak mereka adalah :
"saya seharusnya bertanggungjawab atas kehidupan saya,
dan menetapkan tujuan saya lebih awal
kehidupan bukanlah latihan, tapi suatu yg sungguhan"

"Orang pintar belajar dari kegagalan,
orang cerdas belajar dari orang pintar yang pernah gagal,
tanpa harus merasakan gagal terlebih dulu"
- lo(ve)

maka, jelas-lah..
apa sesungguhnya PR kita
khususnya saya ^_^

dalam berlomba dalam kebaikan
semoga Allah mengizinkan

~*syafiyah*~

hasil survey lain :
(2) saya akan lebih menjaga kesehatan
(3) saya akan lebih baik dalam mengelola keuangan
(4) saya akan menghabiskan waktu lebih banyak dg keluarga
(5) saya akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengembangkan diri
(6) saya akan lebih banyak bersenang-senang
(7) saya akan merencanakan karir dg lebih baik
(8) saya akan menyumbang lebih banyak

*ingat pula-lah bahwa tujuan dalam islam sudah jelas
yaitu beribadah dalam tauhid kpd-Nya
dengan sebenar-benarnya cara
dan seikhlas-ikhlasnya niat

Kata-kata untuk jadi Nyata!

Hari ini saya mendengarkan Ayah Edy (masih mendengarkan) menyenangkan sekali setelah sekian lama tidak mendengarkannya. Ada ucapannya yang menarik, memang bukan tentang parentingnya, melainkan ucapannya mengenai wajah dan menjalankan kata-kata. (Kerennya adalah ayah edy slalu meminta rekamannya saat mengisi acara, agar ia tahu apa yang ia ucapkan dan mengevaluasinya)

Ya, mau tidak mau kata-kata yang baik itu tidak sekedar untuk dipahami melainkan juga dijalani. Kalau kita ingin menebarkan kebaikan, tugas kita adalah memulainya dari kita. Apa yang kita lakukan akan mempengaruhi bagaimana wajah kita, kebaikan-kebaikan akan membuat kita "awet muda". Bagaimana kita santun, bagaimana kita tersenyum, penuh cinta, penuh kasih, penuh kejujuran. Biarlah orang mencontoh dengan tingkah laku kita bukan dengan ucapan. Kita memiliki free will and freedom to choose, tugas kita hanya mengajak dan berfokus pada yang mau.

semoga kata-kata yang kutulis.
mampu kutuang menjadi nyata.

~*syafiyah*~
25/06/2013