Rss Feed

ShoutMix chat widget

Mau seperti ini?
Click aja disini---> Kumpulan Blog Tutorials
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerita. Tampilkan semua postingan

Cerpen : The Call (III)



20 juli 1997.
ia telah berjanji.
dan seandainya ia menepati.
seandainya.
~*~

ada pasar malam!
di lapangan perumahan penduduk.
mata bulat itu tampak berbinar-binar.
memperhatikan satu stand ke stand yang lain.
keren. ada penjual pakaian, ikan, kalung, boneka.
ada gula-gula kesukaannya. ah, ia ingin. teramat.
tapi sayang tak ada izin. sebab ia telah berjanji,
untuk melihat-lihat saja. sebentar saja.
padahal ini kali pertama ia ke mari.
namun apa mau dikata, ibunya, menasehati
tuk menjaga makanan, membeli kalung atau gelang saja,
dan jangan jauh-jauh dari mba. ia berjanji. tapi...

tapi mengapa di tengah perjalanan, perlahan ia melepaskan tangan.
membiarkan mba-nya asyik menonton layar tancap. tak sadar.
mata bundar itu melirik ke penjuru.
dan menemukan kerlap-kerlip dari sudut paling sunyi.
sekaligus paling gelap.
namun disana ia melihat seseorang yg tampak begitu asyik melukis.
melukis. ya... melukis!

gadis itu tertarik. ia mendekat.
ada senyuman menyambut, di pipinya tampak lesung.
‘hai’ sapa pemuda itu. seperti anak sma.
gadis mungil itu tersenyum kecil.
matanya memperhatikan lukisan itu, bunga-bunga.
indah. sangat indah.
‘sendirian?’ tanya pemuda itu.
gadis itu mengangguk.
‘kamu mau dilukis?’
‘eh—‘
‘murah kok. apa yg kamu suka?’
‘aku gak bawa uang’
‘tak mengapa nanti kamu bantu saya beresin ini aja.’
‘gadis itu tersenyum’
‘apa mimpimu dek?’
gadis itu sejenak berpikir, ‘penari balet profesional’
dan pemuda itu mulai menggerakkan kuasnya.
pada kanvas berukuran a4.
sesekali ia bertanya. ‘warna kesukaan’
‘hobi lain’ ‘makanan favorit’ ‘kelas berapa’
‘kegiatan apa saja’ ‘tinggal dimana’
dan gadis itu menjawab setiap pertanyaannya.

tidak lebih dari lima menit lukisan itu selesai.
seorang perempuan tinggi, memakai pakaian balet.
berwarna merah muda, di sebuah ruangan, dibalik jendela.
matanya berbinar-binar makin terang.
ini hadiah terindah yg pernah kamu dapat.

pemuda itu meminta gadis itu membantunya.
sigap dia membawa beberapa lukisannya.
‘mobilku ada disana’ ucapnya menunjukkan sudut jalan.
lebih gelap dari tempat ini. gadis mengangguk.
mengikutinya dari belakang.

sesampai di mobil hitam itu,
mereka memasukkan lukisan itu ke bagasi.
pemuda itu menatapnya begitu lembut.
‘dek maaf ya...’ gadis itu tampak bingung.
namun belum sempat lidahnya bertanya ‘kenapa?’
sebuah sapu tangan telah menutup mulut dan hidungnya.
seseorang ada di belakangnya, menahan tubuhmnya.

kaku. sesak. tak bisa bergerak.
matanya mengerjap. pemuda itu menunduk.
tangannya tergenggam erat. mengeras.
ada yg tertahan. ada yang ditahan.
‘tolong-tolong’ hati kecil itu bersua.
‘maaf-maaf’ hati kecil yang lain berseru pilu.

gadis kecil itu meronta. namun tak lama.
sebab perlahan semua semakin gelap.
dan ia tak berdaya.

malam itu, di perumahan mewah,
di pasar malam, semua tampak ribut dan kalut.
sebab seorang anak perempuan, 11 tahun.
bermata bulat, berambut panjang.
kulit putih. keturunan eropa-jawa.
anak satu-satunya dari pengusaha batik terkemuka.

dan di tengah jalan perbatasan kota,
gadis itu yang sejak tiga jam lalu tertidur.
mulai sadar diri. tapi tangannya terikat pun juga kakinya.
tubuhnya lemah. matanya berat.
hanya sayup-sayup suara terdengar.

‘kamu bilang hanya ambil emas yang dipakainya!’
‘kalau kita culik keuntungannya lebih besar bro!’
‘ini tidak boleh! saya tidak ikut-ikutan resikonya besar!’
‘resiko akan kecil kalau kamu ikuti permainan gue!’
‘saya gak peduli. saya selesai sampai disini!’
‘kalau lo berhenti sekarang, lo mau lihat temen lo sedih?’
‘kita bisa cari cara lain untuk nolongin dia!’
‘lo gak sadar? gak ada cara lain untuk dapetin uang puluhan juta!’
‘kita udah terlanjur. kita udah bawa anak ini.
ikuti rencana yg tadi gue bilang. klo lo nyerahin...
lo yakin dia nggak lupa sama muka lo? dont be childish!’

setelah itu hening. teramat hening.
gadis itu jatuh pada lelap yang panjang.
~*~
20 juli 2007. dini pagi.
di atas ranjang. lelapmu terganggu. nafasmu sesak. teramat.
ada mimpi aneh. teramat aneh. memori itu kembali.
dheg! matamu seketika terbelalak. menatap langit-langit putih.
kamu melihat tanganmu. utuh. memegang wajahmu.
kamu sudah dewasa. semua sudah berlalu.
tenang-tenang. tenang.
semua baik-baik saja. baik-baik saja.

tapi matamu basah.
seandainya kamu  menepati janji.
ibumu pasti masih ada disisimu.
menemanimu, tersenyum.

‘kriiiing...’
dering itu, menyentakmu. telepon disamping ranjangmu.
tak jauh dari jendela. eh.. j-jendela itu.
kamu menutup mulutmu. teramat kaget.

mahkah...?

dan seketika memori itu kembali.
di sudut lukisan penari balet itu, ada sebuah inisial.
huruf ‘m’ . mungkinkah itu untuk mahkah..?

02.11.12 the call part iii

Cerpein : The Call (II)




mahina memandangi telepon tua itu.
sudah dua kali ia berbunyi, di senja ini.
namun, mengapa kamu hanya diam?
apakah hari ini, kamu terlalu kaget mendapati jawaban...
yang terasa begitu dekat dengan kebenaran
sekaligus ketidakmungkinan?

tanganmu terangkat, menuju telepon itu..
jantungmu berdegup keras.
ah.. nantilah! putus hatimu cepat,
lantas mengambil botol minum yang berada tepat disampingnya.
kamu memilih keluar, berkeliling komplek rumah.
menjernihkan kepala.

kakimu naik dan turun berkecepatan sedang,
menyusuri jalanan, yang entah kemana.
tapi pikiranmu telah jauh keberbagai arah, pada setiap kemungkinan.

pagi tadi kamu bertemu dewa. lelaki berkulit coklat. tiga puluh tahun.
ia menemani putrinya bermain sepeda, di depan rumah.
setelah sedikit basa-basi, kamu memberanikan diri bertanya,
‘apakah sebelum saya, ada yang pernah menyewa lantai tiga,
atas nama mahkah?’
entah perasaanmu saja, atau memang benar begitu,
setelah nama itu kamu sebut, matanya membesar,
tubuhnya menegang, ia tampak menahan nafas.
setelah menyisakan lima detik dalam diam,
telunjuknya menggaruk pelipis matanya, mulutnya terbuka.
‘eee.. i-itu.. 10 tahun lalu mungkin, k-kenapa memangnya?’
...10 tahun lalu...? kamu menggeleng, akankah ia percaya bahwa kamu menerima telepon darinya?
‘t-tidak. aku hanya menemukan nama itu terukir di dinding.’ katamu cepat.
‘jika boleh tahu, dia sekarang ada dimana?’
dahinya mengerut, halis matanya saling mendekat, jelas dewa bingung.
‘e-entahlah. saya harus siap-siap kerja. mari. ’
kamu jelas tahu, ia menutupi sesuatu.
tapi kamu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
menuju sebuah toko yang tak jauh dari komplek.
setelah memberi roti, susu, dan beberapa hal lain, kamu kembali pulang.
namun ditengah perjalanan ada seekor kucing, sejenis anggora,
kamu mengambilnya, membelainya lembut, mungkinkah ia tersesat?

dalam perjalananmu, tepat di taman ini, tadi pagi...
tiba-tiba saja kucing itu melompat dari pangkuanmu,
berlari ke sisi lain taman, kamu mengejarnya, dan terperanjat..
ketika kucing itu menghampiri seorang wanita, berambut putih,
usianya mungkin hampir enam puluh tahun.

ia duduk di tepi atas rerumputan, di sampingnya sebuah tongkat tergeletak.
‘aah si putih, kemana saja kamu?’ wanita itu membelai lembut kucingnya.
kamu membantu nenek itu berdiri, ternyata sejak tadi ia mencari kucing itu,
namun ia terjatuh di taman, dan kakinya terkilir. kamu mengantarnya pulang.

dan sebab itulah siang tadi, mahina berada di rumah nenek itu,
tidak hanya menikmati secangkir teh, melainkan juga kenyataan lain,
tentang lelaki yang telah kamu yakini berasal dari masa lalu.

‘lukisannya bagus nek,’ ucapmu, memandang lukisan yg terpajang,
di dinding ruang tamu. gambar sebuah pemandangan hijau dg banyak bunga.
disana, jika diperhatikan, ada gambar perempuan, diantara bunga-bunga itu.
indah. seakan menyatu dengan alam. nenek baru menceritakan seseorang,
yang memiliki mata yg sama denganmu, tetangga yang paling baik dan perhatian,
ia telah menanggapnya sebagai anak sendiri.

‘dia pasti seniman hebat ya nek? saya jadi ingin bertemu dengannya,’
nenek tersenyum kecil, ‘sudah hampir sepuluh tahun nenek tidak melihatnya, nak’
matanya tampak berkaca, ‘mungkin dia sudah lupa sama nenek..’
mendengar kata sepuluh tahun, membuat nafasmu tertahan,
bibirmu bergetar, ‘apakah namanya mahkah?’
nenek tampak sangat kaget mendengarnya,
namun kamu lebih kaget darinya, sebab segala kemungkinan nampak semakin tipis.
dan mengerucut pada satu fakta, bahwa dia memang lelaki dari masa lalu.

namun setelah kembali ke kamarmu, dan mendapati telepon itu berdering,
dua kali di senja ini, kamu memutuskan untuk berlari, menjernihkan kepala.
sebab masih ada satu kemungkinan, bahwa dia orang gila.

kakimu terus melangkah. kepalamu sudah tak tentu arah.
tapi, ketika matamu menangkap warna-warna di sebuah dinding,
di sudut komplek, yang paling sunyi.
warna-warna yang melukiskan sebuah telepon tua,
di sampingnya, tertulis kata : ‘mahina’
ah, itu namamu! belum habis keterkejutanmu,
dibawahnya terlukis samar wajah lelaki, tersenyum.
‘1997 call 2007 answer please. this is me, mahkah.’
kamu memutar arah, berlari menuju rumah.

‘hallo? ah, kamu! akhirnya kamu menelepon!’
tadinya kamu khawatir telepon itu takkan masuk,
sebab kamu menelepon teleponmu sendiri.
tapi, ini sungguh-sungguh terjadi, ada seseorang disana yang mengangkatnya.
kamu berbaring di ranjang, tanganmu memegang gagang telepon,
mendengar suaranya, mulutmu terbuka, ‘sekarang, aku percaya’

‘be-benarkah?’ dan dia terdengar ragu.
di ruang coklat itu, mahkah duduk di ranjang, menatap keluar,
langit menguning. ‘he’em’ terdengar sahutanmu.
kalian menatap langit kuning yang sama di waktu yang berbeda.
sama-sama tidak mengerti, mengapa harus kalian?

‘kamu sudah tahu nama saya, tapi saya tidak tahu namamu’
‘mahina,’
‘mahina?’
‘i-iya..? namaku mahina,’
lelaki itu terkekeh, ‘ini lucu..’
‘heh?’
‘kamu tahu arti namamu?’
‘mm.. bulan.. sepertinya,’
‘yup. bulan. dan kamu tahu arti namaku?’
kamu menggeleng, ‘tidak’
‘artinya bumi’
‘hah?’ dheg. bulan dan bumi...?
dan detik kemudian terasa begitu hening,
mungkin.. mungkin memang seharusnya kalian-lah,
yang saling terhubung.  bukan yang lain. kalian percaya itu.

dan perlahan, pembicaraan mengalir, sebagaimana angin malam.
‘adakah yang berubah disana setelah 10 tahun?’
‘tidak tahu, aku baru dua hari disini..’
‘ah ya, tentu saja, maaf. kalau begitu aku akan memberitahumu,
jika memang belum berubah. hmm.. di mulai dari rumah...
di rumah dulu hanya ada dua lantai, tapi karena keluarga saya sangat besar,
banyak saudara yang sering menginap, maka dibangun lantai tiga.
hanya ada dua kamar, tapi memiliki ruang keluarga dan dapur.
kamar yang kamu pakai adalah kamar saya, kamar yang sebelahnya adalah kamar dewa.’

‘sekarang disini hanya ada kamar ini, sepertinya sudah digabung dgn kamar sebelah,
dapur dan ruang tamu-pun sudah jadi bagian dari kamar ini..
sepertinya memang diubah menjadi seperti rumah’

‘ooh begitu ya.. di halaman belakang hanya ada lapangan kecil, dengan beberapa bunga,
bunga-bunga itu ibu saya yang mengurusnya, apakah masih ada?’
‘mm.. di belakang rumah ada kolam renang, bunga? mungkin hanya di pot-pot,
tapi ada pohon cukup besar dengan ayunan’
‘ah, ya! itu ayah saya yang membuatkannya, senang rasanya pohon itu masih ada..’

‘perumahan disini masih cukup jarang, dalam proses pembangunan,
tapi di jalan saya, sudah banyak yang dibangun. ah ya, saya punya tetangga namanya bu darma,
usia beliau sekarang empat puluh lima, a-apa beliau masih hidup?’

kamu mengangguk, ‘iya, dia tampak sehat, dia punya kucing putih,’
‘dia memelihara binatang? saya tidak menyangka,
beberapa minggu lalu dia kehilangan suaminya,
dan menjadi sangat-sangat tertutup.’

‘benarkah?’
dan pembicaraan terus berlanjut, kalian berbicara tentang tempat disana..
taman kota, orang-orang di sekitar, tempat-tempat,
lingkungan, perkembangan teknologi.

tapi, mahina, mengapa tidak kamu katakan tentang lukisan itu?

‘mahina, kamu bisa melihat bulan malam ini?’
‘i-iya...’ bulan penuh, indah sekali.
‘apa yang kamu suka na? apa yang kamu lakukan sekarang?’
‘aku.. aku hanya guru balet..’
‘mengajar disana?’
‘ya. satu minggu lagi baru masuk.’
‘selain itu apa yang kamu sukai?’
kamu menghela nafas, ‘entah. tapi.. akhir-akhir ini aku suka berada di kamar’
lelaki di ujung sana tertawa, ‘mengapa kamu tidak keluar? berapa usiamu?’
‘dua puluh satu’
‘benarkah? usiaku delapan belas tahun. berarti aku memanggilmu kak mahina?’
kamu tersenyum, ‘tapi ditahunku, kamu berusia dua puluh delapan, kak mahkah’
dan terdengar tawa di sebrang sana,
‘sudah tua ya? kalau begitu usiamu kini baru sebelas tahun?’

ah, ya... sebelas tahun, masih sd.
t-tunggu.. sebelas tahun?
nafasmu menjadi sesak.

lantas kamu mendengar suara aneh dari sebrang sana,
‘mahkah.. hallo?’
tak ada sahutan. ‘hallo’

‘hallo? maaf-maaf aku sedang menyiapkan alat lukisku,’
‘...kamu suka melukis?’
‘yup’ mahkah mengangguk, ia duduk menghadapan kanvas, tangan kanannya memegang kuas,
dan tangan kirinya menggenggam telepon. ini sedikit aneh.
sudah hampir setengah tahun ia tak punya ide. buntu.
dan kini, semua mengalir begitu banyak.

‘mahina, bagaimana kalau kita sambung besok’
‘i-iya. eh.. t-tapi.. boleh tahu.. bulan apa disana sekarang?’
ada jeda sebentar, ‘bulan juli tanggal delapan belas’
dan tubuhmu terasa kaku.

‘bye mahina,’
‘b-bye mahkah’

dan tubuhmu yang kaku, terbaring lemas.
ingatanmu melintas jauh pada 19 juli 1997.
sesak. semakin sesak.

the call part ii. 01.11.12

Cerpen : The Call (I)



di teras rumah lantai tiga itu kamu berdiri.
sisa air mata tlah mengering di pipimu.
rambutmu yg kini pendek, bergerak perlahan, tertiup angin senja.
sedangkan gaun putih selutut, mengibar, seakan siap membawamu terbang.
satu kakimu melangkah lebih jauh, terlalu dekat dengan batas.
hanya tinggal enam puluh detik sisa waktumu.
sebelum tubuh mungilmu jatuh menghantam halaman rumah.
kamu sudah bertekad. jika ia tak datang, kamu mati.
sebab kehadirannya adalah satu-satunya bukti,
bahwa kamu pantas di percaya, bahwa kamu tidak gila.
ah.. mungkin memang harus disini semua berakhir,
di tempat bagaimana semua bermula.
~*~
tiga bulan lalu. minggu pagi yg cerah.
perempuan berambut sepinggang. bermata bulat.
menatap langit yg seketika tampak kosong. keluar jendela.
itu dirimu, mahina.
seseorang perempuan memelukmu erat. matanya berkaca.
setelah lebih dari empat jam kamu diam.
hanya ini kata yg kamu ucap : ‘aku baik-baik saja. pulanglah.’
ia menyahut banyak sekali. meminta untuk tinggal disini.
kamu menggeleng berulang-ulang. mendorongnya.
dan berkali-kali berucap. ‘aku baik-baik saja. pulanglah’
perempuan itu mengerti. ia bergegas pergi.
sungguh.. siapa yang tidak terluka.
jika sang kekasih berkhianat.
dan memutuskan menikahi kakak dari sahabatnya.
perempuan itu jelas cukup mengerti.

kala senja semakin merapat pada malam.
kamu tidak beranjak,  tapi jatuh terlelap.
bahkan tanpa sempat menutup jendela
 atau sedikit menggeserkan kardus-kardusmu.
kamu yg sedang bermimpi mengejar ‘perempuan gila’
(ah sebutanmu untuk si perebut) merasa bersyukur karna terbangun.
sebab suara ‘kriiiing’ itu begitu nyaring. eh.. suara telepon?
kamu tak yakin itu.. kamu baru pindah. mana mung---
tapi matamu menangkap sebuah telepon di sudut kaki ranjangmu.
telepon bergagang, berkabel, dan tampak klasik, bersuara nyaring.
mungkinkah orang yang dulu menyewa ruangan ini, meninggalkannya?
‘ha-hallo..?’
‘hai..’ kamu mendengar suara lelaki, terdengar begitu riang.
jam-mu menunjukkan pukul 1 dini hari. dia pasti orang iseng.
‘siapa?’ tanyamu.
‘disana siapa?’ ah jelas orang iseng.
‘ini dini hari! tolong ya!’
‘siapa kamu? kenapa kamu ada di rumahku?! mana dewa?’ nadanyanya berubah.
dewa..? rumahnya? ‘a-apa maksudmu..? aku menyewa lantai tiga rumah ini sejak kemarin!’
‘hah?? kamu menyewanya? kamu menyewa dari siapa?
dewa? ah benar-benar itu anak, membawa perempuan ke lantai tiga.
dengar ya, sampai tahun depan saya masih berhak atas rumah saya!
saya tidak suka ada perempuan di ruangan saya. saya harap anda bisa segera keluar.
karena besok saya baru kembali dari luar kota.’
lidahmu tercekat, lelaki itu benar-benar tidak berhenti bicara.
‘maaf ya. tolong jangan mengarang. saya tdk menemukan barang-barang anda.
anda mau datang ya datang saja. siapa takut. toh sebelumnya memang tidak ada yang menyewa.
sudah tiga bulan tempat ini kosong.’
‘apa? saya mengarang? kamu yang mengarang!
saya sedang kesal sama dewa. besok kita bertemu langsung saja,
kalau kamu memang berani’
‘saya tidak takut. saya akan ada di kamar ini sampai tahun depan!
hubungi saya jika anda benar-benar berani datang!
biar saya yang membuka pintu anda l.a.n.g.s.u.n.g!’
kamu menutup telepon setelah beberapa patah kata lelaki itu.

baru kali ini ia mendapat telepon dari ‘pengarang sejati’ yg keras kepala.
tapi entah mengapa, agenda kunjungannya besok membuatmu terpacu,
untuk membereskan kamarmu, merapikan barang-barang dari kardusmu.
dan setelah semalaman kamu membereskannya,
pukul setengah tujuh kamu terlelap kembali.
begitu lelap.

 ‘kriiiiiing’ sayup-sayup kamu mendengar telepon.
tanganmu reflek mengambilnya.
dan suara lelaki itu langsung menyambutmu.
‘saya sudah di depan pintu kamar. buka!’
kamu menyahut. kemudian berjalan menuju pintu,
dengan degup jantung yang berdebar.
entah mengapa kamu penasaran dgn rupa si ‘pengarang bebas’ itu.
tukang bohong.
kamu membuka kunci. membuka pintu.. dan... kosong.
aah.. benar-benar orang iseng!!
baru saja kamu hendak menutup pintu, telepon itu berbunyi.
kamu setengah berlari, tepat dugaanmu itu lelaki tadi.
‘berapa lama lagi pintunya dibuka?’ gerutunya.
‘saya sudah membukanya. pintu itu masih terbuka. dasar pembohong!’
‘saya bukan pembohong!’
lelaki itu menatap tajam pintu dihadapannya, ia mengeluarkan kunci dari saku,
membuka pintu. memasuki ruangan bernuansa coklat, klasik, kesukaannya.
yang isinya sama seperti saat ia meninggalkannya.
ada kasur berseprai coklat dengan karpet krem.
tirai coklat muda. sebuah laci di hadapan tempat tidur.
diatasnya ada sebuah telepon bergagang. klasik.
telepon yg sekarang ia hubungi. eeh... lelaki itu terpaku.
‘haloo...’ teriakmu, setelah sekian detik tidak ada sahutan.
‘h-haloo..’ lelaki itu gugup.
‘benar kan? kamu pembohong?’
‘saya tidak bohong.. sebutkan alamatmu?’
‘oooh... bilang saja kamu mau minta alamat rumahku! never!’
lelaki itu menghela nafas, ‘alamat saya jalan mawar ii no. 3,
kamar saya di lantai tiga. ada dapur. ada kamar mandi.’
nafasmu tertahan, ‘kamu penguntit?!!’
‘saya bukan penguntit! tapi saya memang benar-benar tinggal disini!’
kamu menggeleng, ‘tidak mungkin! saya tinggal disini.’
sekarang saya benar-benar ada di kamar saya.’
kamu mengangguk, pura-pura mengerti
‘ooh.. kamu pasti penyewa yang sebelumnya ya?’
‘tidak ada penyewa sebelum saya! saya pemilik kamar ini.
ini rumah orangtua saya di kota ini!’
kamu bersender duduk di atas ranjang,
‘maaf ya mas. saya bisa loh mengecek kebenarannya.
saya bisa bertanya langsung pada pemilik rumah ini.’
‘siapa pemiliknya?’
‘ibu ratna’
‘ratna dewitasari?’
‘yup. anda benar!’
‘ba-bagaimana mungkin, dia kan sedang kuliah di london!’
‘eeh..’ kamu seketika menyahut,
‘beliau memang 10 tahun lalu s1 di london, tapi 5 tahun lalu kembali kesini,
mengurus rumah ini bersama suaminya!’
‘se-sepuluh tahun lalu? suami?’
‘yup. suaminya bernama dewa. ‘
‘dewa? ratna?’
‘yup?’
‘kamu jangan mengarang. kalau kamu bilang sepuluh tahun lagi, itu artinya 2007?’
kamu mengerut, aneh sekali, ‘tentu saja. ini memang tahun 2007.’
‘ini 1997! bukan 2007!’
‘tidak mungkin! kamu gila! ini jelas-jelas 2007!’
‘saya tidak percaya, tidak mungkin saya terhubung ke masa depan..’
‘jangan ngaco!’ ujarmu.
‘saya juga tidak percaya. jika kamu tidak bohong, berarti ini benar.
walau saya tidak bisa menjelaskan,
mengapa telepon ini dapat terhubung.
nama saya mahkah. jika memang benar.
dewa dan ratna pasti tahu.
saya ingin tahu mengapa ratna dapat menikah dgn kakak sahabat saya!
jika tidak ada jawaban, berarti kamu bohong’

dan kamu, mahina, kamu diam.
terpaku tak bergerak. mendengar kata itu.
membuatmu seakan jatuh ke tempat paling gelap.

25.10.2012. part i